Di tengah perjalanan hidup yang dipenuhi ujian, cobaan, dan berbagai tuntutan, setiap hamba pasti memiliki hajat-hajat penting yang ingin disampaikan kepada Allah Ta’ala. Ada kebutuhan yang terasa mendesak, ada pula harapan yang begitu kuat untuk segera dikabulkan oleh-Nya. Dalam tradisi keilmuan Islam, para ulama fikih telah menjelaskan bahwa salah satu bentuk ikhtiar untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memohon terkabulnya kebutuhan tersebut adalah melalui pelaksanaan salat hajat. Ibadah ini menjadi sarana bagi hamba untuk mengetuk pintu langit, menunjukkan ketundukan, dan menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah Yang Maha Mengabulkan doa.
Baca juga : Doa Sebelum Belajar Agar Ilmu Bertambah dan Diberkahi Allah
Salat hajat merupakan salat yang dilakukan untuk memohon kepada Allah Ta’ala agar mengabulkan kebutuhan mendesak seseorang. Dalam bahasa Arab, kata “hajat” memiliki arti kebutuhan yang sangat diperlukan.
Disebutkan dalam At-Ta’rifat Al-Fiqhiyyah tentang definisi salat hajat,
صلاة الحاجة: هي ما تصلَّى لقضاء الحاجة
“Salat hajat adalah salat yang dilakukan untuk memenuhi suatu hajat (kebutuhan yang mendesak).”
Salat hajat tidak memiliki waktu tertentu yang ditetapkan. Seorang muslim dapat melaksanakan salat ini kapan saja ia mau, baik di siang hari maupun malam hari. Hal yang harus dihindari adalah waktu-waktu yang dilarang untuk salat, yaitu setelah salat Subuh dan saat matahari terbit; saat matahari tepat berada di atas, sampai tergelincir; setelah salat Asar dan saat matahari terbenam. Selain dari waktu-waktu tersebut, seorang muslim memiliki kebebasan untuk melaksanakan salat hajat kapan pun ia memerlukannya.
Baca juga : Bacaan Niat Salat Jenazah Pengertian, Serta Tata Cara Salatnya
Berdasarkan hadis Abdullah bin Abi Aufa bahwa salat hajat dilakukan dengan:
Pertama: dua rakaat.
Kedua: tidak ada bacaan khusus yang harus dibaca dalam salat ini. Orang yang melaksanakan salat ini, boleh membaca apa saja yang ia inginkan dalam bacaan salatnya.
Ketiga: setelah itu, ia berdoa dengan doa apa saja yang ia kehendaki, baik yang berkaitan dengan kebaikan dunia maupun akhirat. Salah satu doa yang disebutkan dalam hadis adalah,
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الحَلِيمُ الكَرِيمُ، سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ العَرْشِ العَظِيمِ،
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ، أَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَالغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ، وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ،
لَا تَدَعْ لِي ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ، وَلَا هَمًّا إِلَّا فَرَّجْتَهُ، وَلَا حَاجَةً هِيَ لَكَ رِضًا إِلَّا قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
“Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Penyantun lagi Maha Mulia, Mahasuci Allah, Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Aku memohon kepada-Mu hal-hal yang mewajibkan rahmat-Mu, dan keteguhan untuk mendapatkan ampunan-Mu, serta keberhasilan dalam setiap kebaikan dan keselamatan dari setiap dosa. Janganlah Engkau biarkan bagiku satu dosa pun, melainkan Engkau mengampuninya. Tidak ada kesulitan, kecuali Engkau berikan jalan keluarnya. Dan tidak ada hajat yang Engkau ridai, kecuali Engkau penuhi, wahai Tuhan yang Maha Pengasih dari semua yang mengasihi.”
Kemudian, ia dapat memohon kepada Allah apa saja yang ia kehendaki, baik dari urusan dunia maupun akhirat. Wallaahu a’lam.
Pada akhirnya, salat hajat menjadi jalan bagi seorang hamba untuk bersimpuh dengan sepenuh ketundukan di hadapan Allah Ta’ala, memohon pertolongan-Nya atas segala urusan yang tak mampu ia pikul sendirian. Dalam sujud dan doa yang terpanjatkan, seorang hamba menyerahkan seluruh harapan, kegelisahan, dan kebutuhan hanya kepada Dzat yang Maha Mendengar setiap bisikan hati. Semoga melalui amalan salat hajat, Allah memudahkan langkah-langkah kita, melapangkan jalan keluar dari setiap kesulitan, serta mengabulkan hajat-hajat yang kita titipkan kepada-Nya dengan penuh keyakinan dan keikhlasan.
Ingin mengenal BSI Maslahat lebih dekat? Klik BSI Maslahat di sini
BSI Maslahat merupakan LAZNAS dan Nazir Wakaf resmi terdaftar di Kementerian Agama RI dan BWI

