Jombang – Di Pesantren Al-Urwatul Wutsqo Jombang, santri belajar bahwa sepiring nasi bukan sekadar hidangan, melainkan hasil dari doa, kerja keras, dan pengelolaan alam. Melalui dukungan BSI Maslahat, santri tidak hanya mengaji, tetapi juga menjadi pelaku ketahanan pangan yang menopang kehidupan pesantren. Di balik lantunan ayat-ayat suci yang menggema setiap hari, Pesantren Al-Urwatul Wutsqo Jombang menyimpan pelajaran hidup lain yang tak kalah penting. Para santri di pesantren ini belajar menyentuh tanah, merawat tanaman, memberi pakan ternak, hingga mengolah hasil panen menjadi makanan untuk ribuan porsi konsumsi harian.
Pesantren yang berdiri sejak 1946 oleh KH Muhammad Ya’qub ini awalnya hanya menjadi tempat mengaji. Seiring berjalannya waktu, madrasah-madrasah lahir dan jumlah santri terus bertambah. Sejarah panjang pesantren membentuk tradisi kuat: siapa pun yang datang untuk belajar agama, akan diterima dan dihidupi. Pada masa kepemimpinan KH Drs. M. Qoyim Ya’qub, pesantren bahkan membebaskan seluruh biaya pendidikan santri. Santri yang memiliki rezeki dipersilakan berinfak, sementara yang tidak membawa apa pun tetap diasuh sepenuhnya. Untuk memenuhi kebutuhan makan, pesantren membutuhkan sekitar Rp175 ribu per santri setiap bulan. Jumlah santri mencapai lebih dari 550 orang, terdiri dari sekitar 250 santri putra dan 300 santri putri.
Ketahanan Pangan sebagai Ikhtiar Pesantren

Seiring meningkatnya kebutuhan dan tantangan ekonomi, pesantren menyadari bahwa kemandirian pangan menjadi kunci keberlangsungan. Upaya tersebut semakin diperkuat melalui Program Pesantren Sehat yang diinisiasi oleh BSI Maslahat, khususnya pada aspek ketahanan pangan. Melalui program ini, pesantren mendapatkan dukungan pengembangan usaha ketahanan pangan berbasis integrated farming, yang menghubungkan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan dalam satu sistem terpadu. Di Pesantren Urwatul Wutsqo, pendekatan ini diterapkan melalui konsep permakultur (permanent agriculture).
Permakultur dirancang meniru pola alam, membangun ekosistem yang saling terhubung, produktif, dan berkelanjutan. Tidak ada yang terbuang. Limbah organik diolah kembali menjadi pupuk, sementara hasil panen dimanfaatkan secara optimal untuk kebutuhan santri dan operasional pesantren.
Baca juga: BSI Maslahat Dorong Ketahanan Pangan Pesantren Lewat Program Pesantren Sehat di Cilacap dan Jombang
Santri Turun ke Lahan, Belajar dari Alam

Bagi Pesantren Urwatul Wutsqo, ketahanan pangan bukan hanya soal ketersediaan bahan makanan, tetapi juga bagian dari pendidikan karakter. Salah satu kewajiban santri di pesantren ini adalah “Amal Sholeh” sebuah praktik nyata yang mengajarkan santri untuk terlibat langsung dalam kehidupan pesantren.
Santri putra dibagi ke dalam kelompok-kelompok pengelolaan lahan pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan. Mereka belajar dari proses paling awal: mengolah tanah, menanam, merawat, hingga memanen. Sementara itu, santri putri mengolah hasil panen menjadi makanan yang dikonsumsi bersama setiap hari.
Bu Nyai Pesantren Urwatul Wutsqo menyampaikan “Para santri jadi memahami proses pengelolaan pangan sejak awal, mulai dari menanam, merawat, hingga memanen. Santri putri juga mengetahui bagaimana santri putra bercocok tanam. Dari situ mereka belajar menghargai nikmat Allah, karena untuk bisa menikmati makanan, ternyata dibutuhkan perjuangan.” Melalui pola ini, santri tidak hanya memahami ilmu agama, tetapi juga belajar menghargai proses kehidupan dan kerja keras.
Makan Sehat, Santri Lebih Kuat

Hasil dari sistem ketahanan pangan ini dimanfaatkan dalam dua bentuk. Sebagian hasil panen dijual untuk membantu biaya operasional pesantren, sementara sebagian lainnya digunakan langsung untuk memenuhi kebutuhan makan santri. Perubahan pola konsumsi dengan bahan pangan organik turut berdampak pada kesehatan santri, sejalan dengan tujuan Program Pesantren Sehat. Bagi pesantren, pangan bukan hanya kebutuhan fisik, tetapi juga sumber keberkahan dan pembelajaran hidup.
Ustaz Khaliq, salah satu pengurus pesantren, menilai program ketahanan pangan yang didukung BSI Maslahat membawa manfaat besar dan berkelanjungan. “Alhamdulillah, kami sangat merasakan manfaat dari program ini. Kami mengucapkan terima kasih kepada BSI Maslahat. Kami berharap dan berdoa semoga program ini terus berjalan dan membawa keberkahan bagi pesantren, BSI Maslahat, dan seluruh pihak yang terlibat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa program ini bukan hanya mendorong pola hidup sehat, tetapi juga memberikan edukasi praktis kepada santri. “Santri tidak hanya memahami secara teori, tetapi terlibat langsung dalam praktik. Harapannya, ilmu ini bisa mereka kuasai dan ditularkan kepada masyarakat di lingkungan tempat tinggal mereka masing-masing,” tambahnya.
Baca juga: BSI Maslahat Wujudkan Kemandirian Pesantren Sehat di Pandeglang
Dari Pesantren untuk Kemaslahatan yang Lebih Luas
Melalui dukungan BSI Maslahat, Pesantren Urwatul Wutsqo Jombang membuktikan bahwa santri mampu menjadi pelaku ketahanan pangan. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan internal pesantren, tetapi juga sebagai bekal pengabdian di tengah masyarakat. Santri tidak hanya memahami nilai agama secara lisan, tetapi mempraktikkannya melalui kerja nyata, menjaga alam, dan memastikan keberlanjutan pangan.
Program ketahanan pangan ini menjadi contoh bagaimana intervensi yang tepat dapat melahirkan dampak berlapis: santri lebih sehat, pesantren lebih mandiri, dan pengetahuan tentang pengelolaan pangan berkelanjutan siap ditularkan ke lingkungan sekitar. Dari pesantren, nilai kemandirian dan kepedulian tumbuh, lalu menyebar ke keluarga dan masyarakat tempat para santri kelak kembali.
Bagi BSI Maslahat, ketahanan pangan bukan sekadar program, melainkan ikhtiar menghadirkan kemaslahatan yang berdampak nyata serta berkelanjutan. Dengan menjadikan santri sebagai subjek utama, BSI Maslahat turut menanamkan nilai keberdayaan yang dampaknya tidak berhenti di pesantren, tetapi meluas ke umat dan lingkungan yang lebih besar.
Di Pesantren Urwatul Wutsqo, mengaji dan mengolah tanah berjalan seiring. Dari sanalah lahir generasi santri yang beriman, berilmu, mandiri, dan siap menebarkan manfaat. Sebuah wujud nyata dari kemaslahatan yang terus mengalir.
Cari tahu lebih banyak terkait BSI Maslahat di sini.
BSI Maslahat merupakan LAZNAS dan Nazir Wakaf resmi terdaftar di Kementerian Agama RI dan BWI

