Jakarta, 12 Februari 2026 – Banjir besar dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra sejak akhir November 2025 meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat. Derasnya hujan yang dipicu cuaca ekstrem dan fenomena hidrometeorologi menyebabkan rumah-rumah terendam, akses jalan terputus, fasilitas publik rusak, hingga ribuan warga harus mengungsi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 24 Januari 2026 mencatat jumlah korban meninggal mencapai 1.201 orang, di mana 562 di antaranya berasal dari Aceh. Lebih dari 113.900 warga mengungsi ke lokasi yang tersebar di sejumlah kabupaten, termasuk Aceh Utara, Gayo Lues, dan Pidie Jaya sebagai tiga wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak. Sebanyak 170.050 bangunan mengalami kerusakan pada tingkat ringan hingga berat, sementara fasilitas kesehatan, sekolah, rumah ibadah, jembatan, dan ruas jalan turut terdampak.
Bencana ini tidak hanya merusak bangunan, tetapi juga memukul ketahanan ekonomi keluarga. Ribuan anak terpaksa hidup di tenda darurat, sebagian warga masih menunggu pertolongan karena akses ke desa mereka tertutup lumpur dan reruntuhan. Tim respon BSI Maslahat di lapangan melaporkan adanya wilayah yang baru dapat dijangkau setelah perjalanan panjang menembus sungai, tanah longsor, dan jalan yang putus total.
Baca juga : Tata Cara Membayar Zakat Fitrah
Alam Rusak Karena Ulah Manusia
Bencana banjir besar yang melanda Sumatra tidak terjadi begitu saja. Jika ditelusuri, musibah ini berakar dari menurunnya kualitas kawasan hutan yang seharusnya menjadi benteng alami bagi lingkungan. Penebangan pohon secara berlebihan menyebabkan tanah kehilangan kemampuan menyerap air. Aliran sungai yang dahulu stabil kini mudah meluap ketika curah hujan meningkat karena tidak ada lagi pepohonan yang menahan limpasan air. Ketidakseimbangan alam inilah yang kemudian kembali kepada manusia dalam bentuk bencana.
Dalam ajaran Islam, peringatan mengenai pentingnya menjaga bumi telah disampaikan sejak lama.
ظَهَرَ الۡفَسَادُ فِى الۡبَرِّ وَالۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ اَيۡدِى النَّاسِ لِيُذِيۡقَهُمۡ بَعۡضَ الَّذِىۡ عَمِلُوۡا لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُوۡنَ ٤١
Artinya : Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum : 41)
Ayat ini menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan merupakan tanggung jawab manusia sekaligus pengingat untuk memperbaiki diri.
Apa yang terjadi di Sumatra hari ini menjadi contoh nyata. Pembiaran terhadap degradasi hutan dan lingkungan akhirnya kembali menciptakan dampak yang merugikan kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, menjaga kelestarian hutan, melindungi satwa, serta merawat lingkungan harus menjadi bagian dari kesadaran kolektif. Upaya ini penting dilakukan agar bencana serupa tidak berulang dan masyarakat dapat hidup lebih aman serta berkelanjutan.
Baca juga : Wujudkan Cinta untuk Orang Tua dalam Bentuk Pahala Jariyah
Banjir Besar sebagai Bahan Muhasabah Diri
Banjir besar yang melanda Sumatera sejatinya menjadi muhasabah agar manusia tidak berlebihan dalam memanfaatkan alam. Islam menuntun umatnya untuk menjaga keseimbangan dalam segala urusan, termasuk dalam mengelola sumber daya bumi. Lingkungan yang kita tinggali adalah amanah yang wajib dipelihara.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki peran kepemimpinan dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang berada dalam kendalinya. Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan,
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah penanggung jawab dan setiap kalian akan ditanya tentang pertanggungjawabannya. Pemimpin masyarakat adalah penanggung jawab dan ia akan ditanya tentang pertanggungjawabannya.” (HR.Bukhari no.893)
Merenungi musibah banjir ini juga menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kita diajak untuk memohon ampun dan menyadari bahwa manusia hanyalah makhluk kecil yang tidak pantas bersikap sombong dalam mengeksploitasi alam. Ketika kesombongan menguasai, hukum alam yang ditetapkan Allah dapat seketika bekerja dan membawa bencana yang menghancurkan. Karena itu, menjaga alam dan merawat lingkungannya adalah bagian dari bentuk ketaatan sekaligus upaya mencegah datangnya musibah serupa.
Peran BSI Maslahat untuk Masyarakat Sumatra
Sebagai lembaga yang berkomitmen menghadirkan maslahat yang berdampak nyata, BSI Maslahat memandang bencana ini sebagai panggilan untuk memperkuat peran dalam aksi kemanusiaan. BSI Maslahat terus mengembangkan inisiatif yang tidak hanya fokus pada pemulihan jangka pendek, tetapi juga keberlanjutan kehidupan masyarakat terdampak.
Setiap bencana selalu menyisakan luka, tetapi juga membuka ruang untuk berbagi. Sumatra telah menunjukkan bahwa masyarakat dapat bertahan, bangkit, dan bergerak maju dengan kekuatan yang lahir dari kebersamaan. BSI Maslahat hadir untuk menjaga api harapan itu tetap menyal dan menguatkan yang lemah, dan memastikan bahwa setiap bantuan memberi dampak jangka panjang bagi ketahanan keluarga dan komunitas.
Bersama, kita belajar bahwa di balik setiap bencana, selalu ada hikmah, Sumatra akan pulih. Dengan ikhtiar, doa, dan kolaborasi kita semua. Bantu Sumatra untuk bangkit kembali melalui digital.bsimaslahat.or.id/tanggapbencana.

