Abu Bakar Ash-Shiddiq, Sang Singa Pemberani Umat Islam

Di kota Makkah, sekitar tahun 572–573 M, lahirlah seorang anak dari pasangan Utsman bin Amir (Abu Quhafah) dan Ummul Khair Salma binti Sakhar. Anak itu diberi nama Abdullah bin Utsman, namun kelak lebih dikenal dengan panggilan Abu Bakar. Ia berasal dari suku Quraisy cabang Bani Taim, sebuah kabilah terhormat di Mekah. Sejak kecil, Abu Bakar tumbuh sebagai sosok yang jujur, lembut, dan disukai banyak orang. Ia dikenal sebagai pedagang yang amanah, serta memiliki pengetahuan luas tentang nasab bangsa Arab.

Ash-Shiddiq sebuah gelar yang  melekat padanya karena ia selalu membenarkan Rasulullah SAW tanpa ragu. Gelar ini diberikan kepada Abu Bakar karena ia menjadi sahabat Rasulullah SAW yang paling dipercaya, bahkan dalam hal-hal yang sulit diterima akal. Kisah yang paling terkenal terjadi setelah peristiwa Isra Mi’raj. Ketika Rasulullah SAW menceritakan perjalanan luar biasa itu, banyak penduduk Makkah yang meragukan, mengejek, bahkan ada yang murtad. Di tengah keraguan tersebut, Abu Bakar tampil dengan penuh keyakinan dan membenarkan ucapan Rasulullah SAW. Sejak saat itulah ia dikenal dengan gelar Ash-Shiddiq.

Baca juga : Keteguhan Iman Sa’ad bin Abi Waqqash yang Menggetarkan Hati

Ketika Islam mulai disampaikan secara terbuka, Abu Bakar adalah orang dewasa pertama yang beriman kepada Nabi Muhammad SAW. Ia tidak hanya beriman, tetapi juga aktif mendukung dakwah dengan hartanya. Puluhan budak yang disiksa karena tauhid dibebaskannya, termasuk Bilal bin Rabah. Ketika Rasulullah meminta umat untuk bersedekah, Abu Bakar menyerahkan seluruh hartanya. Saat ditanya apa yang ia sisakan untuk keluarganya, ia menjawab, “Aku tinggalkan Allah dan Rasul-Nya.” Sikap ini menunjukkan keimanan yang total, tanpa menyisakan keraguan sedikit pun.

Kesetiaannya kepada Nabi terlihat jelas saat hijrah ke Madinah. Ia menemani Rasulullah dalam perjalanan penuh bahaya, masuk lebih dulu ke Gua Tsur untuk memastikan keselamatan Nabi, dan tetap tenang meski kaum Quraisy hampir menemukan mereka. Rasulullah menenangkannya dengan firman Allah: 

لَّا تَنْصُرُوْهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّٰهُ اِذْ اَخْرَجَهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا ثَانِيَ اثْنَيْنِ اِذْ هُمَا فِى الْغَارِ اِذْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهٖ لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ فَاَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلَيْهِ وَاَيَّدَهٗ بِجُنُوْدٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا السُّفْلٰىۗ وَكَلِمَةُ اللّٰهِ هِيَ الْعُلْيَاۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

Artinya : Jika kamu tidak menolongnya (Nabi Muhammad), sungguh Allah telah menolongnya, (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Makkah), sedangkan dia salah satu dari dua orang, ketika keduanya berada dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya, “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka, Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Nabi Muhammad), memperkuatnya dengan bala tentara (malaikat) yang tidak kamu lihat, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu seruan yang paling rendah. (Sebaliknya,) firman Allah itulah yang paling tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS. At-Taubah: 40).

Baca juga : Umar bin Khattab Sahabat Rasulullah, Sang Pembawa Kejayaan Islam

Setelah wafatnya Rasulullah, Abu Bakar diangkat sebagai khalifah pertama. Meski dikenal lembut, ia menunjukkan ketegasan luar biasa dalam menegakkan agama. Ia memerangi orang-orang murtad dan mereka yang enggan membayar zakat, bahkan lebih tegas daripada Umar bin Khattab. Di masa pemerintahannya, Al-Qur’an dikumpulkan agar terjaga keasliannya, dan pasukan Islam mulai menaklukkan Syam serta Irak. Semua ini menunjukkan bahwa Abu Bakar bukan hanya sahabat setia, tetapi juga pemimpin yang menjaga agama agar tetap tegak.

Ingin mengenal BSI Maslahat lebih dekat? Klik BSI Maslahat di sini

BSI Maslahat merupakan LAZNAS dan Nazir Wakaf resmi terdaftar di Kementerian Agama RI dan BWI