Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam adalah salah satu rangkaian sīrah yang paling kuat menggambarkan keteguhan iman, keberanian menegakkan tauhid, dan penolakan total terhadap segala bentuk kesyirikan. Dalam perjalanan dakwahnya, beliau menghadapi dua kaum dengan dua bentuk penyimpangan ibadah yang berbeda yaitu penyembahan patung di Babil (Irak saat ini) dan penyembahan benda-benda langit di Harran, (Turki saat ini). Namun dalam kondisi apa pun, Nabi Ibrahim berdiri teguh di jalan kebenaran meski ia seorang diri menjadi muslim di tengah kaumnya.
Dakwah Nabi Ibrahim di Babil, Meluruskan Tradisi yang Menyimpang
Ketika diangkat menjadi nabi, Ibrahim ‘alaihis salam memulai dakwahnya kepada kaumnya di Babil, termasuk ayahnya sendiri. Kaum Babil sangat tekun menyembah patung-patung buatan mereka. Pada saat itu, tradisi nenek moyang dijadikan alasan utama untuk mempertahankan keyakinan yang salah. Allah Ta’ala mengisahkan dialog Nabi Ibrahim dan kaumnya,
وَلَقَدْ آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ، إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ؟
“Dan sesungguhnya Kami telah anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun). Dan Kami mengetahui keadaannya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada Bapaknya dan kaumnya, ‘Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?’” (QS. Al-Anbiya’: 51-52)
Ayat ini menjelaskan bahwa mengikuti tradisi nenek moyang tanpa ilmu adalah salah satu penyebab seseorang sulit menerima hidayah. Nabi Ibrahim pun menegaskan kesesatan mereka dan mengajak mereka kembali kepada Allah, Tuhan yang menciptakan langit dan bumi.
Perbedaan Keyakinan Dua Kaum Nabi Ibrahim
Setelah diusir dari Babil, Nabi Ibrahim berhijrah ke Harran. Di sinilah beliau mendapati kaum lain yang menyembah bintang, bulan, dan matahari. Dua model kesyirikan yang berbeda ini memperlihatkan bahwa manusia bisa tersesat dalam bentuk penyembahan apa pun, baik benda langit maupun buatan tangan. Namun, semuanya sama-sama bertentangan dengan tauhid.
Tauriyah dan Tekad Nabi Ibrahim Menghancurkan Berhala
Setelah berdakwah secara lisan, Nabi Ibrahim bertekad melakukan tindakan nyata sebagai bentuk nahi mungkar. Ketika kaumnya pergi ke suatu acara ritual tahunan, beliau tidak ikut serta dan berkata bahwa dirinya sedang “sakit”. Ini adalah tauriyah, ungkapan yang benar tetapi disalahpahami oleh pendengar. Maksudnya, sakit yang beliau rasakan adalah sakit hati melihat kesyirikan kaumnya.
Saat semua orang pergi, Ibrahim mengambil kapak dan menghancurkan seluruh patung kecil, lalu menyisakan satu patung besar sebagai bentuk sindiran keras. Kapak itu beliau kalungkan pada patung terbesar, seolah menjadi pelaku utama. Ini dilakukan agar kaumnya berpikir dan menyadari bahwa berhala-berhala itu tidak mampu berbuat apa pun.
Ketika mereka kembali dan menuduh Ibrahim, beliau menjawab dengan logika yang menggugah:
قَالُوا أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَذَا بِآلِهَتِنَا يَاإِبْرَاهِيمُ، قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ
“Mereka bertanya, ‘Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?’ Ibrahim menjawab, ‘Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala-berhala itu, jika mereka dapat berbicara.’” (QS. Al-Anbiya’: 62-63)
Jawaban ini memukul telak akal sehat mereka. Namun karena kesombongan, mereka tidak mau mengakui kebenaran.
Baca juga : Sa’id bin Zaid, Sosok Sahabat Rasulullah yang Doanya Mustajab
Nabi Ibrahim Dibakar Hidup-hidup, Ujian Besar bagi Kekasih Allah
Karena mereka sudah kalah argumen dan tak bisa membantah, maka tiada cara lain kecuali dengan menggunakan kekerasan. Mereka ingin Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dibunuh dengan cara dibakar di hadapan banyak orang.
قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ
“Mereka berkata, ‘Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak.” (QS. Al-Anbiya’: 68)
Ketika kayu bakar sudah terkumpul banyak dan terlihat sangat tinggi (dikumpulkan selama berhari-hari), mereka kemudian menyalakan api dan melemparkan Nabi Ibrahim ke tengah lautan api yang besar dengan menggunakan manjaniiq (alat pelempar semacam ketapel besar). Nabi Ibrahim saat itu berkata,
حَسْبِيَ اللَّهُ وَنِعْمَ الوَكِيلُ
“Cukuplah Allah bagiku. Dia adalah sebaik-baik Pelindung.” (HR. Bukhari no. 4564)
Kemudian Allah Ta’ala menolong Nabi Ibrahim,
قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الأخْسَرِينَ
“Kami berfirman (kepada api), ‘Hai api jadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.’ Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.” (QS. Al-Anbiya’: 69-70)
Api yang seharusnya panas dengan karunia Allah menjadi dingin dan menyejukkan. Maka, selamatlah Nabi Ibrahim.
Cicak Ikut Meniup Api
Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa cicak ikut meniup untuk membesarkan api yang membakar Nabi Ibrahim.
عَنْ أُمِّ شَرِيكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ” أَمَرَ بِقَتْلِ الوَزَغِ، وَقَالَ: كَانَ يَنْفُخُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلاَم
“Dari Ummu Syariik bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintah untuk membunuh cicak, dan Nabi berkata, ‘Cicak dulu meniup (untuk membesarkan api) Ibrahim ‘alaihis salam.’” (HR. Bukhari)
Imam Ahmad rahimahullah juga meriwayatkan dari Saibah ketika ia masuk ke rumah Aisyah, maka ia melihat di rumah Aisyah ada tombak yang diletakkan di tempatnya. Ia pun bertanya, “Wahai ibunda kaum mukminin, apa yang hendak engkau lakukan dengan tombak ini?” Beliau menjawab, “Untuk menombak cicak-cicak, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan kepada kami bahwasanya Ibrahim ‘alaihis salam ketika dilemparkan di api, maka tidak ada seekor hewan pun, kecuali berusaha mematikan api. Kecuali cicak, cicak meniupkan untuk memperbesar nyala api. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membunuhnya.” (HR. Ahmad no. 24780)
Sebagaimana hadis di atas, kita disunahkan untuk membunuh cicak. Karena selain cicak membantu meniup api, cicak juga merupakan hewan penganggu dan membawa penyakit.
عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغِ وَسَمَّاهُ فُوَيْسِقًا»
“Dari ‘Amir bin Sa’ad dari ayahnya (Sa’ad bin Abi Waqqash) bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk membunuh cicak dan Nabi menamakannya dengan Fuwaisiq (yang mengganggu dan memberikan kemudaratan).” (HR. Muslim)
Baca juga : Kisah Nabi Ibrahim Lengkap Dari Lahir Hingga Wafatnya
Perdebatan Nabi Ibrahim dengan Raja Namrud
Para ulama bersilang pendapat mengenai kapan kisah pertemuan dan perdebatan antara Nabi Ibrahim dan Namrud/Numrud tersebut? Pendapat yang kuat kejadiannya adalah setelah Nabi Ibrahim dibakar, yaitu ketika ia selamat. Ia lalu dibawa untuk bertemu dengan Namrud yang menjadi penguasa negeri saat itu.
Raja Namrud adalah salah satu dari dua Raja (termasuk Fir’aun) yang pernah mengaku sebagai Tuhan. Disebutkan oleh sebagian ulama bahwa ada empat orang yang kekuasaannya sangat luas di muka bumi ini. Dua orang tersebut adalah muslim (Nabi Sulaiman ‘alaihis salam dan Dzulqarnain), dan dua yang lainnya kafir (Namrud dan Bukhtanasshar). (Tafsir Ibnu Katsir, 1: 525).
Allah Ta’ala mengisahkan pertemuan Nabi Ibrahim dengan Namrud dalam firman-Nya,
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan, ‘Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan.’ Orang itu berkata, ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat.’ Lalu, terdiamlah orang kafir itu, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 258)
Karena kalah debat, akhirnya Nabi Ibrahim ‘alaihis salam diusir oleh Namrud dari Babil. Kemudian Allah mengirimkan seekor lalat atau nyamuk yang masuk ke dalam hidungnya dan tinggal di dalam kepalanya selama 400 tahun. Selama itu pula kepalanya dipukul dengan palu. Karena jika kepalanya dipukul, maka sakitnya berkurang. Allah menghinakan Namrud hingga kematiannya karena seekor hewan kecil dengan penuh ketersiksaan. (Lihat Tafsir At-Thabari, 14: 204)
Ketika Nabi Ibrahim diusir Namrud, maka beliau pergi ke Harran dan bertemu dengan Nabi Luth yang merupakan keponakannya. Nabi Ibrahim pun mendakwahinya dan ia pun beriman.
Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam memberikan banyak pelajaran berharga tentang keteguhan iman dan kemurnian tauhid. Salah satu pesan terpenting adalah bahwa tauhid harus dipegang teguh meski sendirian. Nabi Ibrahim hidup di tengah masyarakat yang penuh dengan kesyirikan, namun beliau tidak gentar meskipun menjadi satu-satunya muslim di lingkungan itu. Keteguhan ini mengajarkan bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah pengikut, tetapi oleh keyakinan yang benar dan petunjuk dari Allah. Sejalan dengan itu, kisah ini juga menegaskan bahwa tradisi tidak selalu benar. Kaum Nabi Ibrahim menjadikan adat nenek moyang sebagai alasan untuk tetap menyembah berhala, padahal tradisi tersebut bertentangan dengan wahyu. Dari sini kita belajar bahwa kebenaran sejati hanya dapat ditemukan pada ajaran Allah, bukan pada kebiasaan yang diwariskan turun-temurun tanpa dasarnya.
Selain itu, Nabi Ibrahim menunjukkan bahwa akal dan logika adalah sarana yang kuat untuk mengajak manusia kepada kebenaran, seperti yang terlihat ketika beliau mengajak kaumnya berpikir tentang ketidakmampuan berhala-berhala mereka. Namun pada akhirnya, hidayah sepenuhnya berada di tangan Allah. Sebagus apa pun argumentasi yang disampaikan, hanya Allah yang membolak-balikkan hati manusia.
Kisah ini juga mengajarkan bahwa keberanian dalam melakukan nahi mungkar sangat penting, tetapi harus dilakukan dengan hikmah dan strategi yang tepat, sebagaimana Nabi Ibrahim menghancurkan berhala sebagai bentuk kritikan tajam yang menggugah kesadaran kaumnya. Dan pada puncaknya, ketika Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam api, tampaklah pelajaran besar tentang tawakal.
Di saat seluruh upaya manusia tidak lagi memadai, pertolongan Allah hadir bagi orang-orang yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya. Api yang seharusnya membakar berubah menjadi dingin dan membawa keselamatan, menjadi bukti bahwa siapa pun yang bertawakal dengan sepenuh hati akan mendapatkan perlindungan dan bantuan dari Allah SWT. Semoga kita bisa menjadi bagian dari hamba-hamba yang diberi cahaya hidayah dan dijauhkan dari kesesatan.
BSI Maslahat merupakan LAZNAS dan Nazir Wakaf resmi terdaftar di Kementerian Agama RI dan BWI

