Fitnah Al-Masih ad-Dajjal adalah ujian paling besar yang Allah hadirkan bagi umat manusia, sebuah cobaan yang belum pernah ada tandingannya sejak Nabi Adam diciptakan hingga tibanya hari kiamat. Para ulama mengingatkan bahwa fitnah ini bukan sekadar menyesatkan akal, tetapi juga mengguncang iman dan keyakinan manusia. Karena begitu dahsyat dan berbahayanya fitnah Dajjal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan kepedulian yang luar biasa dengan berulang kali memperingatkan umatnya, agar kaum Muslimin senantiasa waspada, memperkuat iman, dan tidak terperdaya oleh tipu daya akhir zaman.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan umat ini di atas jalan kebenaran yang begitu jelas. Beliau menggambarkannya,
تركتُكم على البيضاءِ ليلِها كنهارِها لا يزيغُ عنها بعدي إلا هالِكٌ
Artinya : “Aku tinggalkan kalian di atas jalan yang putih bersih, malamnya seperti siangnya. Tidak ada yang menyimpang darinya kecuali orang yang binasa.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Seluruh Nabi telah memperingatkan umatnya mengenai fitnah ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ما من نبيٍّ إلا وأنذر قومَه الأعْوَرَ الدَّجَّالَ، ألا إنه أَعْوَرُ، وإنَّ ربَّكم ليس بأعْوَرَ، ومكتوبٌ بين عَيْنَيْهِ ك ف ر
Artinya : “Tidak ada seorang Nabi pun melainkan telah memperingatkan kaumnya tentang si buta sebelah, yakni Dajjal. Ketahuilah, ia benar-benar buta sebelah, sedangkan Rabb kalian tidaklah buta sebelah. Dan tertulis di antara kedua matanya huruf: ك ف ر (kaf – fa’ – ra’).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Semua penjelasan itu merupakan bentuk kasih sayang Nabi kepada umatnya, agar kaum Muslimin tidak terjerumus dalam kesesatan. Berikut ini beberapa petunjuk yang beliau sampaikan agar umatnya selamat dari fitnah terbesar di akhir zaman. Kita pun memohon kepada Allah Yang Maha Agung, semoga Dia senantiasa melindungi kita, keluarga kita, dan seluruh kaum Muslimin dari fitnah Al-Masih ad-Dajjal.
Berpegang teguh kepada Islam dan Menguatkan Iman
Landasan pertama dan terpenting untuk menghadapi fitnah Dajjal adalah ilmu dan akidah yang benar. Seorang muslim harus memahami tauhid dengan baik, terutama mengenal nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya yang sempurna. Inilah benteng paling kuat agar tidak tertipu oleh klaim ketuhanan Dajjal. Dengan memahami tauhid yang benar, seseorang mengetahui bahwa:
Dajjal adalah manusia biasa
Ia makan, minum, tidur, buang hajat, dan memiliki banyak kekurangan. Allah tidak memiliki sifat-sifat itu. Firman Allah Azza wa Jalla,
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” (QS. Asy-Syura: 11)
Dajjal memiliki cacat fisik
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ألا إنه أَعْوَرُ، وإنَّ ربَّكم ليس بأعْوَرَ
“Ketahuilah, ia benar-benar buta sebelah, sedangkan Rabb kalian tidaklah buta sebelah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sangat tidak mungkin seorang makhluk cacat mengaku sebagai Tuhan.
Manusia tidak akan melihat Tuhannya di dunia
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لن تروا ربَّكم حتى تموتوا
“Kalian tidak akan melihat Rabb kalian hingga kalian meninggal.” (HR. Abu Daud)
Maka, siapa pun yang mengaku sebagai Tuhan dan terlihat oleh mata manusia, pasti dia adalah seorang pendusta. Akidah yang benar inilah yang menjadi fondasi utama agar umat Islam selamat dari tipu daya Dajjal.
Memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah Dajjal (terutama dalam salat)
Salah satu bentuk kasih sayang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya adalah beliau mengajarkan doa khusus yang dibaca setiap salat, sebagai perlindungan dari fitnah Dajjal.
Aisyah radhiyallahu ‘anha menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa dalam salatnya,
اللَّهُمَّ إنِّي أعوذ بك من عذاب القبر، وأعوذ بك من فتنة المسيح الدَّجَّال … الحديث
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah al-Masih ad-Dajjal….” (HR. al-Bukhari, Muslim, dan An Nasa’i)
Dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إذا تشهَّد أحدُكُم؛ فليستعذ بالله من أربع، يقول: اللَّهُمَّ إنِّي أعوذُ بك من عذاب جهنَّم، ومن عذاب القبر، ومن فتنة المحيا والممات، ومن شرِّ فتنة المسيح الدَّجَّال
“Apabila salah seorang di antara kalian bertasyahud, maka hendaklah ia meminta perlindungan kepada Allah dari empat perkara. Hendaklah ia mengucapkan: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab neraka Jahanam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari kejahatan fitnah al-Masih ad-Dajjal.’
Baca juga : Di Tengah Padatnya Pemukiman Penduduk BSI Maslahat Salurkan 1.500 Paket Berbuka Puasa di Stasiun Manggarai
Para ulama salaf sangat menekankan doa ini. Imam Ṭhawus rahimahullah bahkan memerintahkan putranya mengulang salat apabila lupa membaca doa ini.
Ulama besar al-Saffarini rahimahullah berkata,
ممّا ينبغي لكل عالم أن يبثَّ أحاديث الدَّجَّال بين الأولاد والنساء والرجال … وقد ورد أن من علامات خروجه نسيان ذكره على المنابر
“Termasuk hal yang sepatutnya dilakukan oleh setiap ulama adalah menyebarkan hadis-hadis tentang Dajjal kepada anak-anak, para wanita, dan kaum laki-laki… Dan telah disebutkan bahwa di antara tanda dekatnya kemunculannya adalah mulai dilupakannya penyebutannya dari mimbar-mimbar.”
ولا سيما في زماننا هذا الّذي اشرأبَّت فيه الفتن، وكَثُرت فيه المحن، واندرست فيه معالم السنن، وصارت السنن فيه كالبدع، والبدعة شرعٌ يُتَّبع، ولا حول ولا قوَّة إِلَّا بالله العلّي العظيم
“Terlebih lagi pada zaman kita sekarang ini, ketika berbagai fitnah muncul menjulang, berbagai ujian semakin banyak, tanda-tanda sunah mulai hilang, sunah menjadi tampak seperti bid‘ah, sementara bid‘ah dianggap sebagai syariat yang harus diikuti. Dan tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.”
Menghafal dan membaca ayat-ayat surah al-Kahfi
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar membaca awal-awal surah al-Kahfi ketika berhadapan dengan Dajjal. Dalam sebagian riwayat disebutkan akhir-akhir surah tersebut, yaitu membaca sepuluh ayat pertama atau sepuluh ayat terakhir.
Di antara hadis-hadis sahih tentang hal ini adalah:
Pertama, hadis riwayat Muslim dari an-Nawwas bin Sam‘an yang panjang, di dalamnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من أدركه منكم؛ فليقرأ عليه فواتح سورة الكهف
“Siapa di antara kalian yang menemui Dajjal, hendaklah ia membaca awal surah al-Kahfi.”
Kedua, hadis riwayat Muslim dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من حفظ عشر آيات من أول سورة الكهف؛ عُصِمَ من الدَّجال؛ أي: من فتنته
“Barang siapa menghafal sepuluh ayat pertama dari surah al-Kahfi, ia akan terlindungi dari Dajjal” maksudnya: terlindungi dari fitnah dan tipu daya Dajjal.
Imam Muslim rahimahullah menambahkan,
قال شعبة: من آخر الكهف، وقال همام: من أول الكهف
“Syu’bah berkata: (yang dimaksud adalah) sepuluh ayat terakhir surah al-Kahfi, sedangkan Hammām berkata: sepuluh ayat pertama.”
An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,
سبب ذلك ما في أولها من العجائب والآيات، فمَن تدبَّرَها؛ لم يفتتن بالدَّجَّال
“Sebabnya adalah karena pada awal surah ini terdapat keajaiban-keajaiban dan tanda-tanda kekuasaan Allah. Barang siapa merenungi ayat-ayat itu, ia tidak akan tertipu oleh Dajjal.”
Membaca surah al-Kahfi merupakan salah satu keistimewaan yang khusus dianjurkan dalam syariat, dan berbagai hadis menganjurkan untuk membacanya—terutama pada hari Jumat. Dalam riwayat al-Hakim dari Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إن من قرأ سورة الكهف يوم الجمعة؛ أضاء له من النور ما بين الجمعتين
“Siapa yang membaca surah al-Kahfi pada hari Jumat, akan dianugerahi cahaya yang meneranginya di antara dua Jumat.”
Tidak diragukan lagi bahwa surah al-Kahfi memiliki kedudukan yang sangat agung. Di dalamnya terdapat ayat-ayat yang penuh keajaiban dan pelajaran: kisah para pemuda Ashabul Kahfi yang diberi keteguhan iman, perjalanan Nabi Musa bersama Khidr yang sarat hikmah, kisah Dzulqarnain dan pembangunan dinding besar penghalang Ya’juj dan Ma’juj, penegasan tentang hari kebangkitan, tiupan sangkakala, serta gambaran orang-orang yang paling merugi amalnya—mereka yang menyangka berada di atas petunjuk, padahal berada dalam kesesatan dan kebutaan.
Oleh karena itu, seorang Muslim selayaknya menjaga kebiasaan membaca surah ini, menghafalnya, dan mengulang-ulangnya—terutama pada hari terbaik yang disinari matahari, yaitu hari Jumat. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa mengambil petunjuk dari kitab-Nya.
Baca juga : Keberkahan Makan Sahur Ketika Puasa di Bulan Ramadan
Menjauhi Dajjal dan tidak mendekatinya dan yang paling utama tinggal di Makkah atau Madinah
Ketika Dajjal keluar, seorang Muslim tidak diperintahkan untuk melihat, menantang, atau mengujinya. Justru Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar menjauh. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim dari Abu ad-Dahmā’, ia berkata, “Aku mendengar ‘Imrān bin Husain menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من سمع بالدَّجَّال؛ فلينأَ عنه، فوالله إن الرَّجل ليأتيه وهو يحسب أنّه مؤمن، فيتبعه ممّا يبعث به من الشُّبهات، أو لما يبعث به من الشبهات
“Siapa yang mendengar (kabar) tentang Dajjal, hendaklah ia menjauh darinya. Demi Allah, ada seseorang yang mendatanginya dalam keadaan merasa bahwa dirinya beriman, namun akhirnya ia mengikuti Dajjal karena berbagai syubhat (kerancuan) yang dibawanya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim)
Dajjal membawa fitnah yang nyata:
- Ia mampu menyuruh langit menurunkan hujan;
- Membuat bumi mengeluarkan tanaman;
- Menghidupkan orang tampak mati yang hakikatnya bukan hidup yang sebenarnya;
- Membawa surga dan neraka palsu;
- Menipu manusia dengan kekuatan gaib.
Banyak orang yang awalnya tidak meyakininya, pada akhirnya hancur karena tidak kuat menghadapi tipuannya. Namun, Dajjal tidak dapat memasuki Makkah dan Madinah. Dalam hadis sahih disebutkan,
عَلَى أَنْقَابِ المَدِينَةِ مَلَائِكَةٌ، لَا يَدْخُلُهَا الطَّاعُونُ، وَلَا الدَّجَّالُ
“Di pintu-pintu (perbatasan) Madinah terdapat para malaikat; tidak akan masuk ke dalamnya tha‘un (wabah mematikan), dan tidak pula Dajjal.” (HR. Muslim)
Dalam hadis lain disebutkan,
لَيْسَ مِنْ بَلَدٍ إِلَّا سَيَطَؤُهُ الدَّجَّالُ ، إِلَّا مَكَّةَ ، وَالمَدِينَةَ ، لَيْسَ لَهُ مِنْ نِقَابِهَا نَقْبٌ ، إِلَّا عَلَيْهِ المَلاَئِكَةُ صَافِّينَ يَحْرُسُونَهَا
“Tidak ada suatu negeri pun kecuali pasti akan diinjak (dimasuki) oleh Dajjal, kecuali Makkah dan Madinah. Tidak ada satu celah pun dari celah-celah keduanya yang dapat ia masuki, kecuali di situ para malaikat berbaris menjaga keduanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Fitnah Dajjal adalah ancaman nyata yang wajib dipelajari
Dajjal adalah fitnah terbesar dalam sejarah manusia. Oleh karena itu, mempelajarinya termasuk bagian dari iman, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Upaya pencegahannya sudah dijelaskan dengan terang:
- Memahami tauhid dan memperkuat iman;
- Membaca doa perlindungan dalam salat;
- Menghafal ayat-ayat surah al-Kahfi;
- Menjauhi Dajjal dan tidak mendekatinya.
Semoga Allah Azza wa Jalla menjaga kita, keluarga kita, dan seluruh umat Islam dari fitnah Dajjal, dari fitnah dunia, dan dari segala tipu daya setan yang tampak maupun tersembunyi.
Amin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu Ta’ala a’lam.
Ingin mudah bersedekah di bulan ramadan ? Klik disini
BSI Maslahat merupakan LAZNAS dan Nazir Wakaf resmi terdaftar di Kementerian Agama RI dan BWI

