Tidak semua perjalanan pulang dimulai dengan langkah yang mudah. Ada yang berawal dari rindu yang tersimpan sejak lama. Bagi Juju, seorang awardee BSI Scholarship, malam itu menjadi penanda bahwa penantian akhirnya menemukan arah. Selepas sidang isbat pada Kamis malam, 19 Maret 2026, dan Idulfitri ditetapkan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, satu hal menjadi pasti: ini waktunya pulang.
Malam itu Juju mulai merapikan barang. Pakaian dilipat, tas disiapkan, dan hati perlahan dipenuhi harapan. Kota perantauan yang selama ini menjadi tempat belajar dan bertumbuh, untuk sementara harus ditinggalkan. Pagi harinya, langkah Juju mengarah ke Terminal Baranangsiang, Bogor. Tujuannya sederhana, bisa naik bus dan kembali ke Garut, ke rumah, ke keluarga.
Baca juga: Tips Aman Arus Balik Mudik: Jaga Kesehatan dan Keselamatan Perjalanan Pasca Lebaran
Juju duduk di kursi bis yang masih menunggu penumpang. Cuaca Bogor cerah berawan, seolah ikut merestui perjalanan para perantau. Namun perjalanan yang terlihat tenang di awal ternyata menyimpan cerita panjang. Memasuki gerbang tol Cikampek, laju kendaraan mulai terhenti. Kemacetan membentang panjang dan membuat perjalanan yang biasanya singkat berubah menjadi belasan jam.
Rasa lelah mulai terasa. Badan pegal, kaki kesemutan, dan waktu berjalan begitu lambat. Namun di tengah kondisi itu, suasana di dalam bus justru terasa hangat. Penumpang yang awalnya saling asing mulai saling menyapa. Bekal makanan dibagi, air minum ditawarkan, dan tawa kecil muncul di sela perjalanan yang melelahkan.
Baca juga: Mobil Musholla BSI Maslahat, Menjaga Kekhusyukan Ibadah Para Pemudik Lebaran 2026
Bagi Juju, momen itu menjadi pengingat bahwa di balik kesulitan selalu ada ruang untuk kebaikan. Perjalanan ini bukan hanya soal sampai tujuan, tetapi juga tentang kebersamaan. Sebagai awardee BSI Scholarship, Juju menyadari bahwa setiap perjalanan hidup selalu membawa pelajaran tentang syukur dan arti berbagi.
Bus terus bergerak perlahan hingga melewati Nagreg. Udara mulai terasa lebih dingin. Jalanan berkelok menjadi tanda bahwa tujuan semakin dekat. Rasa lelah perlahan tergantikan oleh haru yang sulit dijelaskan. Hingga akhirnya, gapura “Wilujeng Sumping Garut” terlihat di depan mata.
Ada hangat yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Aroma khas kampung halaman, bayangan dodol Garut, dan renyahnya kerupuk kulit seolah menyambut kepulangan. Rindu yang selama ini tersimpan akhirnya menemukan tempatnya.
Perjalanan mudik kali ini menyadarkan satu hal sederhana. Macet panjang hanyalah bagian kecil dari cerita. Yang terpenting adalah bisa sampai dan diberi kesempatan untuk kembali berkumpul bersama keluarga. Tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama.
Mudik bagi Juju bukan sekadar perpindahan dari satu kota ke kota lain. Ini adalah perjalanan pulang yang penuh makna. Tentang rindu yang terbayar, kebersamaan yang dirayakan, dan waktu yang masih Allah berikan untuk kembali memeluk orang-orang tercinta.
Ingin mengenal BSI Maslahat lebih dekat? Klik BSI Maslahat di sini
BSI Maslahat merupakan LAZNAS dan Nazhir Wakaf resmi terdaftar di Kementerian Agama RI dan BWI

