Kiat-Kiat Mempererat Cinta Suami Istri

Rumah tangga yang kokoh tidak hanya dibangun dengan cinta, tetapi juga dengan adab, saling pengertian, dan akhlak yang dijaga setiap hari. Dalam Islam, hubungan suami istri bukan sekadar ikatan lahiriah, melainkan amanah spiritual yang menuntut kelembutan, tanggung jawab, dan keteladanan. Kitab Adabul Mufrad karya Imam al-Bukhari, yang disyarah oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, menghadirkan banyak tuntunan sederhana namun mendalam tentang adab dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam mempererat hubungan suami dan istri. Dari hadis-hadis tentang tutur kata yang baik, sikap saling menghormati, hingga keutamaan berbuat lembut kepada keluarga, kitab ini mengajarkan bahwa keharmonisan rumah tangga bermula dari akhlak yang dijaga dan niat ibadah yang terus dipelihara.

1. Saling Memberi Hadiah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

تَهَادَوْا تَحَابُّوا

Artinya “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling cinta mencintai.” (HR.Bukhari)

Memberi hadiah adalah salah satu wujud perhatian dalam hubungan suami istri, baik dari suami kepada istri maupun sebaliknya. Namun bagi seorang istri, perhatian yang diwujudkan melalui hadiah dari suami sering kali memiliki kesan yang sangat mendalam. Hadiah tersebut tidak harus bernilai mahal, karena yang terpenting adalah maknanya sebagai tanda kasih sayang dan kepedulian.

Seorang suami yang pulang membawa oleh-oleh sederhana, terutama yang disukai istrinya, dapat menghadirkan kebahagiaan tersendiri dan membuat istri merasa diperhatikan. Sejatinya, suami adalah orang yang paling memahami apa yang disenangi oleh pasangan hidupnya. Oleh karena itu, sudah selayaknya para suami mengekspresikan perhatian kepada istri, salah satunya melalui pemberian hadiah, meskipun sederhana, sebagai bentuk cinta dan penghargaan dalam rumah tangga.

Baca juga : Apa Itu Wukuf di Arafah dan Bagaimana Caranya?

2. Mengkhususkan Waktu Untuk Duduk Bersama

Jangan sampai antara suami istri sibuk dengan urusannya masing-masing, dan tidak ada waktu untuk duduk bersama.

Ada pertanyaan yang diajukan kepada Syaikh bin Baz : Ada seorang pemuda tidak memperlakukan isteri dengan baik. Yang menjadi penyebabnya, karena ia sibuk menghabiskan waktunya untuk berbagai pekerjaan yang berhubungan dengan studi dan lainnya, sehingga meninggalkan isteri dan anak-anaknya dalam waktu lama. Masalah ini ditanyakan kepada Syaikh, apakah diperbolehkan sibuk menuntut ilmu dan sibuk beramal dengan resiko mengambil waktu yang seharusnya dikhususkan untuk isteri?

Syaikh bin Baz menjawab pertanyaan ini. Beliau menyatakan, tidak ragu lagi, bahwa wajib atas suami untuk memperlakukan isterinya dengan baik berdasarkan firman Allah:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Artinya : “Pergaulilah mereka dengan baik” (HR. An Nisa:19)

Juga sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abdullah bin ‘Amr bin Ash, yaitu manakala sahabat ini sibuk dengan shalat malam dan sibuk dengan puasa, sehingga lupa dan lalai terhadap isterinya, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:”Puasalah dan berbukalah. Tidur dan bangunlah. Puasalah sebulan selama tiga hari, karena sesungguhnya kebaikan itu memiliki sepuluh kali lipat. Sesungguhnya engkau memiliki kewajiban atas dirimu. Dirimu sendiri memiliki hak, dan engkau juga mempunyai kewajiban terhadap isterimu, juga kepada tamumu. Maka, berikanlah haknya setiap orang yang memiliki hak.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Banyak hadits yang menunjukkan adanya kewajiban agar suami memperlakukan isteri dengan baik. Oleh karena itu, para pemuda dan para suami hendaklah memperlakukan isteri dengan baik, berlemah-lembut sesuai dengan kemampuan. Apabila memungkinkan untuk belajar dan menyelesaikan tugas-tugasnya di rumah, maka lakukanlah di rumah, sehingga, disamping dia mendapatkan ilmu dan menyelesaikan tugas, dia juga dapat membuat isteri dan anak-anaknya senang. Kesimpulannya, adalah disyariatkan atas suami mengkhususkan waktu-waktu tertentu, meluangkan waktu untuk isterinya, agar sang isteri merasa tentram, memperlakukan isterinya dengan baik; terlebih lagi apabila tidak memiliki anak.

3. Menampakkan Wajah yang Ceria

Di antara cara untuk mempererat cinta kasih, hendaklah menampakkan wajah yang ceria. Ungkapan dengan bahasa wajah, mempunyai pengaruh yang besar dalam kegembiraan dan kesedihan seseorang. Seorang isteri akan senang jika suaminya berwajah ceria, tidak cemberut. Secara umum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَحْقِرَنَّ مِنْ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْق

Artinya, : “Sedikit pun janganlah engkau menganggap remeh perbuatan baik, meskipun ketika berjumpa dengan saudaramu engkau menampakkan wajah ceria” (HR Muslim)

Begitu pula sebaliknya, ketika suami datang, seorang isteri jangan sampai menunjukkan wajah cemberut atau marah. Meskipun demikian, hendaknya seorang suami juga bisa memahami kondisi isteri secara kejiwaan. Misalnya, isteri yang sedang haidh atau nifas, terkadang melakukan tindakan yang menjengkelkan. Maka seorang suami hendaklah bersabar.

Ada pertanyaan dari seorang istri yang disampaikan kepada Syaikh bin Baz, sebagai berikut :”Suami saya -semoga Allah memaafkan dia-, meskipun dia berpegang teguh dengan agama dan memiliki akhlak yang tinggi serta takut kepada Allah, tetapi dia tidak memiliki perhatian kepada saya sedikit pun. Jika di rumah, ia selalu berwajah cemberut, sempit dadanya dan terkadang dia mengatakan bahwa sayalah penyebab masalahnya.

Baca juga : Quarter Life Crisis Saat Hidup Terasa “Nggak Jelas”

4. Memberikan Penghormatan Dengan Hangat Kepada Pasangannya

Memberikan penghormatan dengan hangat kepada pasangannya, baik ketika hendak pergi keluar rumah, ataupun ketika pulang. Penghormatan itu, hendaklah dilakukan dengan mesra.

Dalam beberapa hadits diriwayatkan, ketika hendak pergi shalat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium isterinya tanpa berwudhu lagi dan langsung shalat. Ini menunjukkan, bahwa mencium isteri dapat mempererat hubungan antara suami isteri, meluluhkan kebekuan ataupun kekakuan antara suami isteri. Tentunya dengan melihat situasi, jangan dilakukan di hadapan anak-anak.

Perbuatan sebagian orang, ketika seorang isteri menjemput suaminya yang datang dari luar kota atau dari luar negeri, ia mencium pipi kanan dan pipi kiri di tempat umum. Demikian ini tidak tepat.

Memberikan penghormatan dengan hangat tidak mesti dengan mencium pasangannya. Misalnya, seorang suami dapat memanggil isterinya dengan baik, tidak menjelek-jelekkan keluarganya, tidak menegur isterinya di hadapan anak-anak mereka. Atau seorang isteri, bila melakukan penghormatan dengan menyambut kedatangan suaminya di depan pintu. Apabila suami hendak bepergian, istri menyiapkan pakaian yang telah diseterika dan dimasukkannya ke dalam tas dengan rapi.

5. Hendaklah Memuji Pasangannya

Di antara kebutuhan manusia adalah keinginan untuk dipuji -dalam batas-batas yang wajar. Dalam masalah pujian ini, para ulama telah menjelaskan [3], bahwa pujian diperbolehkan atau bahkan dianjurkan dengan syarat-syarat : untuk memberikan motivasi, pujian itu diungkapkan dengan jujur dan tulus, dan pujian itu tidak menyebabkan orang yang dipuji menjadi sombong atau lupa diri.

Abu Bakar As Siddiq Radhiyallahu ‘anhu pernah dipuji, dan dia berdo’a kepada Allah: “Ya, Allah. Janganlah Engkau hukum aku dengan apa yang mereka ucapkan. Jangan jadikan dosa bagiku dengan pujian mereka, jangan timbulkan sifat sombong. Jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangka, dan ampunilah aku atas perbuatan-perbuatan dosa yang mereka tidak ketahui”.

Perkatanan ini juga diucapkan oleh Syaikh Al Albani ketika beliau dipuji-puji oleh seseorang di hadapan manusia. Beliau rahimahullah menangis dan mengucapkan perkataan Abu Bakar tersebut serta mengatakan: “Saya ini hanyalah penuntut ilmu saja”.

Seorang isteri senang pujian dari suaminya, khususnya di hadapan orang lain, seperti keluarga suami atau isteri. Dia tidak suka jika suami menyebutkan aibnya, khususnya di hadapan orang lain. Jika masakan isteri kurang sedap jangan dicela.

Menjaga keharmonisan rumah tangga sejatinya tidak selalu membutuhkan hal-hal besar, tetapi konsistensi dalam menunaikan adab dan akhlak mulia dalam keseharian. Memberi perhatian, meluangkan waktu, menampakkan wajah ceria, saling menghormati, serta mengungkapkan pujian dengan tulus adalah kiat-kiat sederhana yang diajarkan Islam untuk memelihara cinta antara suami dan istri. Ketika suami dan istri berupaya menjalani perannya dengan kesadaran ibadah dan saling menjaga perasaan, insya Allah rumah tangga akan dipenuhi sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Ingin tahu program kebaikan di BSI Maslahat? Klik di sini

BSI Maslahat adalah Lembaga Amil Zakat dan Nazhir Wakaf Nasional resmi terdaftar di Kementerian Agama RI dan BWI