Amalan Sunnah di Hari Raya Idul Fitri 

 Hari Raya Idul Fitri adalah momentum suci yang dinanti umat Islam setelah sebulan penuh menempuh perjalanan di bulan Ramadan. Di hari kemenangan ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam tidak hanya mengajarkan ungkapan syukur melalui takbir, tetapi juga mencontohkan berbagai amalan sunnah yang sarat makna. Meneladani sunnah Nabi di Hari Raya Idul Fitri menjadi ikhtiar untuk menyempurnakan kekurangan ibadah wajib, meningkatkan takwa, serta meraih cinta dan kedekatan kepada Allah SWT.  

1.MandiSebelum Berangkat Shalat Id
Hari Idul Fitri adalah hari yang istimewa, maka dianjurkan bagi setiap muslim untuk memulai hari dengan mandi sunnah sebelum berangkat shalat Id. Ini sesuai dengan riwayat dari Abdullah bin Umar ra. yang berbunyi, “Rasulullah saw. biasa mandi pada hari Idul Fitri sebelum pergi ke tempat shalat” (HR. Ibnu Majah No. 1315, Ahmad No. 4902). 

Mandi sunnah ini dianjurkan agar tubuh dalam keadaan bersih dan segar ketika bertemu dengan sesama muslim. Selain itu, Rasulullah saw. juga mengajarkan umatnya untuk mengenakan pakaian terbaik pada hari raya. Tidak harus pakaian baru, yang penting bersih dan rapi. 

2.Makan Sebelum Berangkat Salat Id
Salah satu sunnah Idul Fitri yang sering terlupakan adalah makan sebelum berangkat ke lapangan untuk melaksanakan salat id. Mungkin karena terburu-buru bersiap, sehingga lupa untuk makan terlebih dahulu. Rasulullah saw. terbiasa menyantap beberapa butir kurma sebelum pergi shalat Idul Fitri, sebagaimana dalam hadis yang berbunyi, “Rasulullah SAW tidak berangkat shalat Idul Fitri sampai beliau makan beberapa butir kurma dengan jumlah ganjil” (HR. Bukhari No. 953). 

Tujuan pelaksanaan sunnah ini adalah sebagai penegasan bahwa pada Hari Raya Idul Fitri umat Islam telah mengakhiri ibadah puasa, sekaligus sebagai wujud rasa syukur kepada Allah Swt. atas limpahan nikmat setelah menjalani ibadah selama sebulan penuh di bulan Ramadan. 

3. Mengucapkan Takbir dengan Penuh Penghayatan 
Takbir pada malam dan pagi Idul Fitri adalah salah satu sunnah yang seringkali diremehkan. Hingga pengucapannya kurang penuh penghayatan. Padahal, Allah Swt telah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 185 : 

شَهۡرُ رَمَضَانَ الَّذِىۡٓ اُنۡزِلَ فِيۡهِ الۡقُرۡاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الۡهُدٰى وَالۡفُرۡقَانِۚ فَمَنۡ شَهِدَ مِنۡكُمُ الشَّهۡرَ فَلۡيَـصُمۡهُ ؕ وَمَنۡ کَانَ مَرِيۡضًا اَوۡ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنۡ اَيَّامٍ اُخَرَؕ يُرِيۡدُ اللّٰهُ بِکُمُ الۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيۡدُ بِکُمُ الۡعُسۡرَ وَلِتُکۡمِلُوا الۡعِدَّةَ وَلِتُکَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰٮكُمۡ وَلَعَلَّکُمۡ تَشۡكُرُوۡنَ 

Artinya : “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.“ 

Takbir disyariatkan untuk dikumandangkan mulai sejak matahari terbenam pada malam Idul Fitri hingga menjelang pelaksanaan shalat Id. Lafaz takbir tersebut bertujuan untuk mengagungkan Allah Swt. sekaligus sebagai ungkapan rasa syukur atas rampungnya ibadah puasa Ramadan. Namun demikian, tidak sedikit masyarakat yang hanya mendengarkan takbir melalui pengeras suara masjid tanpa turut melafalkannya. Padahal, akan lebih utama apabila kita ikut mengumandangkan takbir, baik di rumah, sepanjang perjalanan, maupun saat telah berada di lokasi shalat Id. 

4,Berjalan Kaki Menuju Tempat Salat Idul Fitri Berjalan kaki menuju tempat salat idul fitri juga m erupakan sunnah Idul Fitri . Abdullah bin Umar ra. berkata, “Rasulullah saw. biasa pergi ke tempat shalat Id dengan berjalan kaki dan pulang dengan rute yang berbeda” (HR. Bukhari No. 986). 

Berjalan kaki menuju tempat shalat Id tidak hanya bernilai sunnah, tetapi juga memberi ruang untuk lebih menghayati suasana kebersamaan dengan sesama umat Islam. Selain itu, dianjurkan pula untuk melalui jalan yang berbeda saat berangkat dan pulang, sebuah amalan yang kerap terabaikan. Hikmah dari sunnah berjalan kaki ini adalah agar kita memiliki lebih banyak kesempatan berjumpa dengan saudara seiman, saling bermaafan, serta memperkuat ukhuwah Islamiyah. 

5.Menunjukkan Wajah Ceria dan Saling Memaafkan
Hari raya Idul Fitri adalah momen kebahagiaan dan silaturahmi. Oleh karena itu, Rasulullah saw. mengajarkan agar umat Islam menyebarkan salam dan menampakkan wajah ceria. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah” (HR. Tirmidzi No. 1956). 

Namun, sering kali kita melihat orang-orang sibuk dengan urusan pribadi dan kurang memperhatikan interaksi sosial di hari raya. Idul Fitri adalah kesempatan untuk menyambung tali persaudaraan dan saling memaafkan, baik dengan keluarga, teman, maupun tetangga. 

6.Mengucapkan Ucapan Selamat yang Dianjurkan Rasulullah
Ucapan yang sering kita dengar saat Idul Fitri adalah “Minal ‘Aidin wal-Faizin.” Namun, tahukah kamu bahwa Rasulullah saw. tidak pernah mengajarkan ucapan ini? Namun, ucapan yang lebih sesuai dengan sunnah adalah ucapan berikut: 

“Taqabbalallahu minna wa minkum.” 
artinya : Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan kalian 

Ucapan tersebut telah dipraktikkan oleh para sahabat Nabi dan menjadi tradisi yang dianjurkan dalam ajaran Islam. Selain itu, saling menyampaikan doa serta harapan kebaikan kepada sesama muslim juga termasuk sunnah Idul Fitri yang mengandung nilai pahala. 

7.Membantu Kaum Dhuafa dengan Berbagi Sedekah 
Di hari yang penuh berkah ini, berbagi kepada mereka yang kurang mampu menjadi salah satu sunnah Idul Fitri yang sangat dianjurkan. Rasulullah saw. adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanan beliau semakin meningkat di bulan Ramadan dan Idul Fitri. 

Allah SWT berfirman,  

وَاٰتِ ذَا الۡقُرۡبٰى حَقَّهٗ وَالۡمِسۡكِيۡنَ وَابۡنَ السَّبِيۡلِ وَلَا تُبَذِّرۡ تَبۡذِيۡرًا 
Artinya : “Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros” (QS. Al-Isra’: 26).

Zaman sekarang ini, banyak orang yang fokus pada pakaian baru dan makanan mewah, tetapi lupa bahwa masih banyak saudara kita yang membutuhkan bantuan. Jika memungkinkan, kita bisa menyisihkan sebagian rezeki untuk berbagi dengan mereka yang kurang mampu agar mereka juga merasakan kebahagiaan di hari raya. 

Sunnah Idul Fitri sejatinya bukan sekadar rangkaian kebiasaan turun-temurun, melainkan bagian dari ibadah yang penuh makna dan diajarkan langsung oleh Rasulullah SAW. Mulai dari mandi sunnah, menyantap hidangan sebelum shalat Id, hingga berbagi kebahagiaan dengan kaum dhuafa, setiap amalan menyimpan nilai pahala yang besar. Namun, seiring waktu, tak sedikit dari sunnah-sunnah ini yang perlahan terabaikan. 

Sebagai umat Islam, sudah selayaknya kita kembali menghidupkan sunnah-sunnah tersebut agar Idul Fitri tidak hanya dirayakan sebagai hari kemenangan, tetapi juga menjadi momentum memperbanyak pahala dan kebaikan. Dengan mengamalkan sunnah Idul Fitri, hati kita dapat semakin dekat kepada Allah, dan kebahagiaan yang dirasakan pun menjadi lebih dalam dan bermakna. Semoga di hari yang suci ini, kita semua dilimpahi keberkahan serta diampuni segala dosa. Aamiin 

Mau donasi Program Ramadan BSI Maslahat? Klik di sini 

BSI Maslahat merupakan LAZNAS dan Nazir Wakaf resmi terdaftar di Kementerian Agama RI dan BWI