Jakarta, 31 Maret 2026 – Ramadan mengajarkan banyak hal tentang empati, kepedulian, dan ibadah sosial lainnya. Dalam sejarah Islam, ada satu kisah yang selalu dikenang tentang seorang pemimpin yang sangat memahami penderitaan rakyatnya.
Kisah ini datang dari khalifah kedua, Umar bin Khattab, yang pada suatu malam di bulan Ramadan menyaksikan langsung penderitaan rakyatnya.
Suatu Malam di Kota Madinah
Pada suatu malam, Umar berkeliling Kota Madinah—sebuah kebiasaan yang ia lakukan tanpa pengawal dan tanpa memberi tahu siapa pun. Hal tersebut dilakukan karena ia ingin melihat langsung bagaimana kondisi masyarakatnya.
Di tengah perjalanan, Umar melihat sebuah keluarga kecil di pinggiran kota. Seorang ibu duduk di dekat tungku, sementara beberapa anaknya menangis karena lapar. Di atas tungku itu ada sebuah panci yang sedang dipanaskan, seolah-olah makanan sedang dimasak.
Panci yang Hanya Berisi Batu
Khalifah Umar kemudian mendekat dan bertanya kepada sang ibu tentang apa yang ia masak. Dengan nada berat, perempuan itu menjawab bahwa sebenarnya tidak ada makanan di dalam panci tersebut. Ia hanya merebus air dan beberapa batu.
Ia melakukan itu agar anak-anaknya percaya bahwa makanan sedang dimasak. Dengan begitu, mereka mau menunggu hingga akhirnya tertidur karena kelelahan.
Keluhan yang Menyentuh Umar
Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa sang ibu bahkan mengeluhkan keadaan mereka kepada pemimpin negeri. Ia berkata dengan penuh kekecewaan, “Celakalah Amirul Mukminin Umar bin Khattab yang membiarkan rakyatnya kelaparan.”
Perempuan itu tidak menyadari bahwa orang yang bertanya dan berdiri di depannya saat itu adalah Umar bin Khattab. Mendengar kalimat tersebut, Umar sangat terpukul. Tanpa banyak berbicara, ia segera kembali ke Baitul Maal dan mengambil gandum serta beberapa bahan makanan.
Ketika asistennya menawarkan bantuan untuk membawa karung tersebut, Umar menolaknya. Ia berkata, “Apakah kalian mau menggantikanku menerima murka Allah akibat membiarkan rakyatku kelaparan? Biarlah aku sendiri yang memikulnya, karena ini lebih ringan bagiku dibandingkan siksaan Allah di akhirat nanti.”
Umar memilih memikul sendiri karung gandum itu hingga sampai ke rumah keluarga tadi. Ia bahkan ikut menyiapkan makanan sampai anak-anak tersebut bisa makan dengan layak.
Nilai Ekonomi dalam Islam
Kisah ini sering diceritakan sebagai teladan empati seorang pemimpin. Namun, ketika dilihat lebih dalam, kisah ini juga memperlihatkan bagaimana nilai ekonomi dalam Islam bekerja dalam kehidupan masyarakat.
Pada masa itu, Baitul Maal berfungsi sebagai lembaga publik yang mengelola kekayaan umat dan menyalurkannya kepada mereka yang membutuhkan. Instrumen seperti zakat, infak, sedekah, serta berbagai bentuk distribusi sosial menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan ekonomi masyarakat.
Kisah Umar bin Khattab mengingatkan bahwa ekonomi tidak hanya berbicara tentang pertumbuhan dan angka. Di dalamnya ada manusia, ada kebutuhan dasar, dan ada tanggung jawab sosial.
Cari tahu cara bersedekah mudah di BSI Maslahat? Klik Di sini
BSI Maslahat merupakan LAZNAS dan Nazhir Wakaf resmi terdaftar di Kementerian Agama RI dan BWI

