Harga Barang Naik? Ini Nasihat Islami Agar Tetap Tenang

Harga Barang Naik? Ini Nasihat Islami Agar Tetap Tenang

Di tengah dinamika ekonomi saat ini, masyarakat Indonesia merasakan dampak kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok. Mulai dari bahan pangan, biaya transportasi, hingga kebutuhan harian lainnya, kondisi ini kerap menimbulkan kekhawatiran dan tekanan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit yang kemudian merasa cemas bahkan mengeluh terhadap situasi yang sedang terjadi.

Namun dalam pandangan Islam, setiap perubahan kondisi ekonomi bukanlah sesuatu yang terjadi tanpa hikmah. Ada pelajaran berharga yang dapat menenangkan hati dan menuntun kita untuk tetap bersikap bijak dalam menghadapinya.

Baca juga: Harga Emas Melonjak, Apakah Nisab Zakat Ikut Berubah? Ini Penjelasannya

Manusia secara fitrah memang memiliki kecenderungan mudah berkeluh kesah ketika berada dalam kesulitan. Allah Subhanahu wa Ta’ala menggambarkan sifat ini dalam Al-Qur’an:

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا ۝ إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا ۝ وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا

Artinya: “Sesungguhnya manusia diciptakan dengan sifat keluh kesah. Apabila ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan ia menjadi kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 19–21)

Ayat ini mengingatkan bahwa respons manusia terhadap kondisi sulit, termasuk kenaikan harga, sering kali dipenuhi kegelisahan. Karena itu, Islam memberikan tuntunan agar seorang Muslim tetap tenang dan tidak berlebihan dalam menyikapi ujian dunia.

  1. Kenaikan Harga adalah Bagian dari Ketetapan Allah

Fenomena kenaikan harga bukanlah hal baru. Bahkan pada masa Rasulullah SAW, hal serupa pernah terjadi. Para sahabat pernah mengadukan kenaikan harga barang dan meminta agar ditetapkan harga tertentu. Sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, harga barang naik, tetapkanlah harga untuk kami.” Namun Rasulullah SAW menjawab:“Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang menetapkan harga, yang menyempitkan dan melapangkan rezeki. Aku berharap bertemu Allah tanpa ada seorang pun yang menuntutku karena ظلم (kezaliman) dalam urusan harta atau darah.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)

Jawaban ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW mengembalikan segala urusan kepada Allah sebagai Pengatur rezeki. Sikap ini mengajarkan umatnya untuk tetap tenang, tidak panik, dan meyakini bahwa setiap kondisi telah berada dalam ketetapan Allah.

  1. Kenaikan Harga Tidak Mengubah Jatah Rezeki

Seorang Muslim perlu meyakini bahwa rezeki telah ditetapkan oleh Allah dan tidak akan tertukar atau berkurang. Allah Taala berfirman:

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ

Artinya: “Andai Allah melapangkan rezeki bagi hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan melampaui batas di bumi. Tetapi Allah menurunkan rezeki sesuai ukuran yang Dia kehendaki.” (QS. Asy-Syura: 27)

Dalam tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah memberikan rezeki sesuai hikmah dan kemaslahatan masing-masing hamba. Ada yang dilapangkan, ada pula yang disempitkan, semuanya demi kebaikan yang Allah ketahui.

Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa setiap manusia tidak akan meninggal sebelum rezekinya sempurna. Karena itu, seorang Muslim tidak perlu merasa cemas berlebihan terhadap rezekinya, tetapi tetap berusaha dengan cara yang halal dan baik.

  1. Tetap Tenang, Tetap Beribadah, dan Tidak Berlebihan dalam Dunia

Di tengah kondisi ekonomi yang naik turun, Islam mengingatkan agar seorang Muslim tetap menjaga hubungan dengan Allah, terutama melalui ibadah. Allah Taala berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ

Artinya:“Perintahkanlah keluargamu untuk shalat dan bersabarlah dalam menjaganya. Kami tidak meminta rezeki darimu, Kami-lah yang memberi rezeki kepadamu.” (QS. Thaha: 132)

Ayat ini menegaskan bahwa tugas utama seorang hamba adalah beribadah kepada Allah, sementara urusan rezeki telah dijamin oleh-Nya.

Menyikapi Kenaikan Harga dengan Hati yang Tenang

Di tengah kondisi harga barang yang terus berubah, seorang Muslim diajak untuk tidak larut dalam kecemasan berlebihan. Ujian ekonomi adalah bagian dari kehidupan yang mengingatkan kita untuk tetap bersandar kepada Allah, memperkuat ibadah, dan terus berikhtiar dengan cara yang halal.

Baca juga: Menghidupkan Kembali Wakaf Mulai Dari Warisan Peradaban ke Solusi Masa Depan

Ketenangan sejati tidak lahir dari stabilnya harga, tetapi dari keyakinan bahwa rezeki setiap hamba telah diatur dengan penuh hikmah oleh Allah ﷻ. Dengan sikap ini, seorang Muslim dapat tetap menjalani kehidupan dengan lebih tenang, bijak, dan penuh harapan.

Di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian, salah satu cara terbaik untuk menenangkan hati sekaligus memperluas manfaat adalah dengan bersedekah. Melalui BSI Maslahat, Anda dapat menyalurkan sedekah dengan mudah, aman, dan terpercaya melalui layanan digital yang praktis kapan saja dan di mana saja. Setiap sedekah yang Anda titipkan akan disalurkan kepada yang berhak melalui berbagai program pemberdayaan yang berdampak dan berkelanjutan. Mari jadikan setiap kebaikan lebih berarti dengan bersedekah bersama BSI Maslahat.

Yuk cari tahu cara bersedekah mudah di BSI Maslahat? Klik di sini

BSI Maslahat adalah Lembaga Amil Zakat dan Nazhir Wakaf Nasional resmi terdaftar di Kementerian Agama RI dan BWI