Setiap kali kita duduk dalam salat dan membaca tahiyyat, sering kali lisan bergerak tanpa hati benar-benar hadir. Padahal, bacaan tersebut lahir dari peristiwa paling agung dalam sejarah Islam, yaitu Isra Miraj Nabi Muhammad SAW.
Momentum Isra Miraj mengajak kita tidak hanya mengenang perjalanan Rasulullah SAW, tetapi juga merenungi pesan cinta dan keimanan yang tertanam dalam setiap bacaan salat.
Baca juga: Keutamaan Puasa Senin Kamis dan Cara Menjalankannya
Perjalanan Agung Nabi Muhammad SAW saat Menghadap Allah
Isra Miraj adalah perjalanan luar biasa yang Allah SWT anugerahkan kepada Nabi Muhammad SAW dalam satu malam. Isra merupakan perjalanan dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, sementara Miraj adalah perjalanan Nabi dari bumi menuju langit tertinggi, Sidratul Muntaha.
Peristiwa ini terjadi pada malam 27 Rajab, di tahun penuh duka bagi Rasulullah SAW. Saat itu, beliau baru saja kehilangan dua orang tercinta, Sayyidah Khadijah dan Abu Thalib, yang selama ini menjadi penguat dakwahnya. Isra Miraj hadir sebagai penghiburan langsung dari Allah SWT untuk kekasih-Nya.
Dalam perjalanan Miraj, Malaikat Jibril AS hanya dapat mengantar Rasulullah SAW sampai batas tertentu. Setelah itu, Nabi melanjutkan perjalanan seorang diri hingga menghadap Allah SWT di hadapan Arsy.
Inilah momen yang tidak pernah dialami manusia mana pun selain Rasulullah SAW. Sebuah pertemuan penuh keagungan, cinta, dan kedekatan antara hamba dan Tuhannya.
Dialog Suci yang Menjadi Bacaan Salat
Di hadapan Allah SWT, Rasulullah SAW bersujud dan menyampaikan salam penghormatan. Salam inilah yang kini kita kenal sebagai awal bacaan tahiyyat. Rasulullah mendekat lalu bersujud seraya berucap:
“Attahiyatul Mubarakatush Shalawatu At Thayyibaatulillaah”
Artinya: “Semua penghormatan, pengagungan dan pujian hanyalah milik Allah.”
Allah SWT membalas salam tersebut dengan limpahan rahmat dan keberkahan.
“Assalamu’ alaika ayyuhan Nabiyyu warahmatullahi wa barakaatuh”
Artinya “Segala pemeliharaan dan pertolongan Allah untukmu wahai Nabi, begitu pula rahmat Allah dan segala karunianya.
Baca juga: Makna, Bacaan, dan Keutamaan Doa Saat Hujan Menurut Islam
Namun yang paling menyentuh, Rasulullah SAW tidak berhenti pada dirinya sendiri. Dengan penuh kasih, beliau memohon agar salam dan perlindungan Allah juga senantiasa diberikan kepada kita, umatnya. Rasulullah pun menjawab salam dari Allah tersebut dengan berucap:
“Assalamu’alaina wa’ala ibadillahish shalihiin”
Artinya: “Semoga perlindungan dan pemeliharaan diberikan kepada kami dan semua hamba Allah yang shalih.”
Pada saat itu, para malaikat yang menyaksikan dari luar Sidratul Muntaha bergetar dan berdecak kagum. Mereka menyaksikan betapa Maha Pengasih dan Maha Penyayang Allah Taala. Mereka menyaksikan kemuliaan Rasulullah SAW yang meski berada di puncak kenikmatan tertinggi bisa berhadapan dan sujud langsung di hadapan Allah, beliau tetap mengingat umatnya.
Cinta Nabi untuk Umatnya
Kasih sayang Rasulullah SAW kepada umatnya begitu besar. Saat berhadapan langsung dengan Allah SWT, yang beliau ingat bukan keluarganya, melainkan kita semua, umat yang kelak akan mengikuti ajarannya.
Rasa cinta inilah yang kemudian diabadikan dalam bacaan tahiyyat dan shalawat yang kita baca setiap hari dalam salat. Tahiyyat bukan sekadar rangkaian kalimat, melainkan jejak dialog suci antara Nabi Muhammad SAW dan Allah SWT. Memahami kisah di balik bacaan ini membantu kita menghadirkan hati, bukan hanya tubuh, dalam salat.
Baca juga: Cara Salat Taubat Lengkap dan Mudah Dipahami
Melalui peringatan Isra Miraj, mari kita jadikan salat sebagai pertemuan yang hidup antara kita dan Allah SWT. Semoga setiap tahiyyat yang kita baca menjadi pengingat akan cinta Nabi dan jalan cahaya yang mengantarkan kita kembali kepada-Nya.
BSI Maslahat merupakan Lembaga Amil Zakat Nasional berdasarkan Keputusan Menteri Agama Nomor 1093 Tahun 2022.

