Lombok, 03 Maret 2026 – Di tepi jalan Selong Belanak, Bondir, Praya Barat, Lombok Tengah, berdiri sebuah rumah makan sederhana yang selalu ramai disinggahi para pelintas dan wisatawan. Di depan bangunan itu, sebuah etalase besar menampilkan aneka lauk dari ayam goreng, rendang, hingga ikan goreng segar. Di sampingnya, deretan meja dan kursi tertata rapi, lengkap dengan fasilitas toilet untuk para pelanggan.
Rumah makan tersebut milik Leni Anhar, 49 tahun, seorang ibu tangguh yang kini menjadi salah satu nasabah Lembaga Keuangan Mikro Syariah – Bank Wakaf Mikro Ahmad Taqiuddin Mansur (LKMS BWM ATQIA) yang diinisiasi oleh BSI Maslahat. Di balik kesederhanaan bangunannya, tersimpan perjalanan panjang penuh keraguan, keberanian, dan harapan.
Baca juga : Dari Pesanan Tetangga hingga Ribuan Paket: Transformasi Usaha Dapur Ima Bersama BSI Maslahat
Dari Ragu, Menjadi Tahu
Sebelum bergabung dengan LKMS BWM ATQIA pada tahun 2021, hidup Leni tidak mudah. Pandemi covid membuat semua usahanya berhenti. Ia kehilangan pemasukan dan belum tahu harus mulai dari mana lagi. “Saya tidak ada usaha yang berjalan karena corona,” ujarnya mengenang masa itu.
Banyak tetangganya mengajak bergabung dengan LKMS BWM ATQIA. Namun Leni masih ragu. “Saya memikirkan bagaimana membayar angsurannya nanti,” tuturnya. Keraguan tersebut merupakan hal yang wajar di tengah kondisi sulit, meminjam dana terasa menakutkan.
Hingga suatu hari, seorang sahabat berkata pelan, “Kalau takut meminjam, ikut mengaji saja dulu.” Ajakan itu akhirnya ia turuti. Selama sebulan penuh, Leni mengikuti kegiatan mengaji di Halaqoh Mingguan (HALMI), kegiatan rutin nasabah LKMS BWM ATQIA. Di ruang kecil itu, hatinya perlahan tenang. Ia merasa tidak berjalan sendirian. Keyakinannya tumbuh, dan keraguannya mulai runtuh.
Melangkah Dengan Keyakinan Baru
Setelah merasa siap, Leni resmi bergabung dengan HALMI Buras Abadi di bawah BWM ATQIA. Mulai dari pinjaman pertama sebesar Rp1 juta, ia membeli 20 ekor ayam potong. Modal kecil itu ia putar tanpa lelah. Berhari-hari ia belajar, mencoba, dan memperbaiki cara berbisnis.
Usahanya berkembang. Dari 20 ekor ayam, kini ia bisa memenuhi pesanan hingga 80–100 ekor per hari. Ia membeli mesin potong sendiri, bahkan mampu memasok ayam langsung dari peternak besar dengan harga lebih bersahabat. “Ongkos produksi jadi lebih rendah, jadi ketika dijual ke masyarakat tidak terlalu mahal,” ujarnya. Dengan tekun memutar modal dan menjaga kualitas, pesanan yang datang bahkan bisa mencapai 1–2 kuintal ayam.
Baca juga : Menenun Asa dari Kandang Itik: Kisah Hasna Bersama BSI Maslahat
Usaha Tumbuh, Peluang Ikut Membuka Jalan
Kini, dengan pinjaman Rp3 juta, usaha Leni melesat jauh. Letak rumah makannya yang strategis, ditambah belum adanya rumah makan besar di jalur Selong Belanak, membuat warungnya menjadi tempat singgah favorit wisatawan.
“Banyak tamu luar negeri yang mampir ke rumah makan saya,” katanya tersenyum. Ia juga menerima pesanan katering untuk penginapan dan tamu wisata di sekitar kawasan tersebut. Omzetnya pun meningkat hingga Rp9 juta per bulan. Siapa sangka, dari keraguan yang dulu begitu mengganjal, kini langkah Leni justru tumbuh jadi sumber berkah bagi keluarganya.
Rasa Aman yang Menguatkan Perjalanan
Bagi Leni, bergabung dengan LKMS BWM ATQIA bukan sekadar soal pinjaman. Ada rasa aman, nyaman, dan tanpa tekanan yang membuatnya bisa berfokus mengembangkan usaha. “Berbeda kalau meminjam dari rentenir. Pinjam sejuta, dituntut mengembalikan satu setengah juta,” tuturnya.
Ia tak yakin usahanya bisa semaju hari ini jika harus berhadapan dengan bunga dan tekanan dari pinjaman konvensional. Model pendampingan, kajian rutin, dan kebersamaan di LKMS BWM ATQIA membuatnya merasa ditemani dalam perjuangan menuju kehidupan yang lebih baik.
Dari Keraguan Menjadi Harapan
Kini, Leni bersyukur telah menjadi bagian dari LKMS BWM ATQIA. Baginya, bergabung dengan BWM ATQIA seperti menemukan kembali harapan di tengah sulitnya keadaan. Kisah Leni mengingatkan kita bahwa setiap langkah besar sering kali lahir dari keberanian mencoba, belajar, dan percaya bahwa hari esok selalu punya kesempatan yang lebih baik.
Kisah Leni menjadi bukti bahwa kehadiran BSI Maslahat melalui BWM ATQIA tidak sekadar menyalurkan pembiayaan, tetapi menghadirkan pendampingan yang mampu mengubah keraguan menjadi keberanian, serta membawa dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dari sebuah desa di Lombok, langkah kecil ini terus bergema sebagai wujud komitmen BSI Maslahat dalam memberdayakan umat dan membuka jalan menuju kehidupan yang lebih berdaya.
Ingin lebih tahu terkait Program BSI Maslahat? Klik di sini
BSI Maslahat merupakan LAZNAS dan Nazir Wakaf resmi terdaftar di Kementerian Agama RI dan BWI

