Jakarta, 31 Maret 2026 – Selama sebelas bulan dalam setahun, sebagian besar masyarakat menjalani pola hidup yang cenderung berulang. Bekerja, memperoleh penghasilan, membelanjakannya, lalu kembali mengulang siklus yang sama. Ramadan hadir sebagai jeda yang bermakna. Bukan sekadar rutinitas ibadah tahunan, tetapi momentum refleksi yang mampu mengubah cara pandang dalam menjalani kehidupan, termasuk dalam aspek ekonomi.
Dalam Al-qur’an surah Al-Baqarah ayat 183 yang berbunyi:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
yâ ayyuhalladzîna âmanû kutiba ‘alaikumush-shiyâmu kamâ kutiba ‘alalladzîna ming qablikum la‘allakum tattaqûn
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Baca juga: Silaturahim atau Silaturahmi? Memahami Perbedaan Makna dan Penggunaannya
Pada ayat di atas, meneyebutkan bahwa tujuan ibadah Ramadan ialah untuk membentuk karakter yang muttaqin (bertakwa). Yakni kesadaran terhadap pengawasan Allah Taala yang menjadi kompas moral dalam pengambilan keputusan.
Dalam konteks ekonomi, kesadaran ini tercermin dalam sikap kehati-hatian (prudent) atas sumber penghasilan (halalan thayyiban), control dalam konsumsi (tawazun dan I’tidal), hingga tanggung jawab sosial atas harta (ibadah sosial).
Dinamika Konsumsi dan Filantropi
Ramadan menghadirkan fenomena sosial-ekonomi yang cukup menarik, di mana dinamika ekonomi dan spiritual berjalan beriringan. Bulan Suci Ramadan senantiasa menjadi momentum penting yang memicu gelombang besar pada aktivitas ekonomi di Indonesia.
Berdasarkan estimasi BSI Institute pada Jumat (20/3/2026), dalam Ramadan Consumption Overview, kontribusi konsumsi Ramadan 1447 H terhadap total konsumsi kuartal pertama 2026 mencapai 38,12%, naik dari 37,70% pada periode yang sama pada tahun 2025.
Kenaikan yang konsisten ini menegaskan betapa Ramadan menjadi periode yang sangat dinamis bagi masyarakat muslim Indonesia. Semangat spiritual dan kebersamaan sosial menjelang Idulfitri mendorong peningkatan pengeluaran di berbagai lini.

Dari total konsumsi Ramadan, terdapat empat kategori pengeluaran utama yang diidentifikasi BSI Institute. Menariknya, sektor yang paling besar menyerap anggaran bukanlah kebutuhan pangan semata, melainkan sektor yang berkaitan erat dengan nilai-nilai sosial dan keagamaan.
Pilar Pengeluaran Ramadan: Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS)
Pos pengeluaran terbesar selama Ramadan 1447 H diperkirakan berasal dari Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS). Dengan estimasi nilai mencapai Rp52,67 triliun, ZIS menjadi bukti nyata tingginya kesadaran umat Islam di Indonesia dalam menjalankan perintah agama dan tradisi berbagi.
Bulan Ramadan, sebagai bulan yang dilipatgandakan pahalanya, mendorong masyarakat untuk lebih dermawan dan peduli terhadap sesama. Terutama kepada mereka yang membutuhkan. Dana ZIS yang terkumpul ini kemudian disalurkan untuk berbagai program kemanusiaan, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi umat, yang memberikan dampak positif yang luas bagi masyarakat.
Baca juga: Doa untuk Orang Tua: Bentuk Bakti yang Tak Terputus Sepanjang Masa
Tradisi Bertukar Kebahagiaan: Sektor Hadiah dan Parsel
Di urutan kedua, sebagai penyumbang pengeluaran terbesar adalah sektor hadiah atau parsel, dengan estimasi nilai mencapai Rp28,52 triliun. Tradisi saling bertukar bingkisan menjelang Hari Raya Idulfitri merupakan salah satu pendorong utama lonjakan konsumsi di kategori ini.
Berbagai macam produk, mulai dari makanan ringan, kue kering, minuman, hingga produk kebutuhan rumah tangga, laris manis diperjualbelikan sebagai bingkisan. Industri makanan dan minuman, serta sektor ritel produk konsumen lainnya turut merasakan dampak positif yang signifikan dari tradisi ini, karena menciptakan perputaran ekonomi yang cukup besar.
Kehangatan Kebersamaan: Buka Puasa Bersama
Pengeluaran untuk kegiatan buka puasa bersama menempati posisi ketiga dengan total estimasi Rp16,59 triliun. Kebiasaan untuk berbuka puasa secara berjamaah, baik itu dalam lingkup keluarga besar, rekan kerja di kantor, maupun dalam komunitas yang lebih luas, telah menjadi salah satu tradisi sosial yang mengakar kuat di masyarakat Indonesia. Fenomena ini secara langsung mendorong geliat sektor kuliner dan restoran. Banyak restoran yang menawarkan paket buka puasa spesial, sementara itu, acara buka puasa bersama di rumah atau tempat lain juga meningkatkan permintaan akan bahan makanan dan jasa katering.
Kelezatan Takjil: Menyejukkan Dahaga dan Perut
Meskipun menjadi kategori dengan nilai pengeluaran terkecil di antara keempat pos utama, yakni Rp4,31 triliun, pengeluaran untuk takjil tetap memiliki signifikansi yang sangat besar. Angka ini mencerminkan semaraknya geliat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta para pedagang kaki lima yang menjajakan aneka minuman pelepas dahaga dan jajanan berbuka puasa di berbagai penjuru negeri. Mulai dari es buah, kolak, gorengan, hingga jajanan tradisional lainnya, takjil menjadi bagian tak terpisahkan dari momen berbuka puasa, memberikan keuntungan tersendiri bagi para pelaku usaha kecil.
Ramadan meningkatkan ekonomi bukan sekedar konsumsi melainkan perubahan kualitatif alokasi sumber daya dan penegasan peran redistribusi kekayaan melalui semangat Ramadan dalam mendorong puncak Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS), serta kepedulian ekonomi. Aksi ini didasari kesadaran bahwa kekayaan adalah amanah yang menjadikan berbagi merupakan bagian dari rangkaian ibadah.
Baca juga: Apa Itu Jizyah, Zakat, dan Pajak? Ini Penjelasan dan Perbedaannya
Ramadan mengintegrasikan ibadah dan muamalah (ekonomi), keputusan idealnya berdasar etiks ketuhanan dan rasional-profit. Keberhasilan Ramadan adalah perubahan pola dari akumulasi ke optimalisasi fungsi harta untuk kemaslahatan bersama, membentuk ekosistem yang lebih adil, etis, dan berkelanjutan.
Cari tahu cara bersedekah mudah di BSI Maslahat? Klik Di sini
BSI Maslahat merupakan LAZNAS dan Nazhir Wakaf resmi terdaftar di Kementerian Agama RI dan BWI

