Rumiati, Anak Tukang Kayu yang Berjuang Menembus Pendidikan Tinggi bersama BSI Scholarship

Di sudut pinggiran kota Jakarta, ada seorang remaja bernama Rumiati. Rumiati merupakan awardee BSI Scholarship angkatan ke 5. Lahir dari keluarga sederhana, anak seorang tukang kayu serut, Rumiati membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih pendidikan tinggi. Rumiati adalah lulusan SMA Negeri 33 Jakarta, resmi menyelesaikan pendidikan pada 5 Mei 2025. Ia merupakan siswa kurikulum merdeka dengan peminatan Ekonomi, Sosiologi, dan Bahasa Inggris Lanjutan. Dengan nilai rata-rata 92,54 dan peringkat pertama eligible di sekolah, Rumiati menunjukkan bahwa ia bukan hanya cerdas, tetapi juga konsisten dalam prestasi.

Sejak sekolah dasar, ia selalu meraih juara pertama. Di SMA, ia aktif dalam berbagai organisasi seperti KIR, Sinematografi, English Club, Kelompok Studi Islam (KSI), dan menjadi bagian dari Majelis Perwakilan Kelas (MPK) sejak kelas 10. Dalam MPK, ia menjabat sebagai Komisi C (2022–2023) dan Sekretaris I (2023–2024), menunjukkan kepemimpinan dan dedikasi yang tinggi.

Namun, prestasi akademik gemilang itu belum cukup untuk membawanya lolos melalui jalur SNBP. Kegagalan itu sempat mengguncang, tetapi tidak mematahkan semangatnya. “Saya percaya bahwa perjuangan tidak berhenti hanya karena satu pintu tertutup. Menyerah tidak akan pernah menjadi opsi bagi saya,” ujar Rumiati dengan mata yang berbinar penuh tekad.

Baca juga : BSI Scholarship Raih Prestasi di Ajang Duta Literasi OJK 2025 

Mimpi yang Diperjuangkan di Tengah Keterbatasan

Rumiati tumbuh dalam keluarga kecil yang sederhana. Ayahnya bekerja serabutan sebagai penjual kayu bakar, serutan kayu, dan pengumpul rongsokan. Penghasilan harian yang tidak menentu membuat masa depan pendidikan terasa seperti mimpi yang jauh. “Bapak saya sudah lebih dari 10 tahun menjalani pekerjaan ini. Dulu beliau menarik gerobak kayu dengan tangan sendiri. Sekarang alhamdulillah sudah bisa pakai motor, tapi tetap saja, penghasilannya tidak menentu,” cerita Rumiati.

Dalam seminggu, sang ayah hanya mampu menjual 2–3 gerobak kayu bakar, masing-masing seharga seratus ribu rupiah. Serutan kayu dihargai enam ribu rupiah per karung, tergantung musim dan permintaan. Di usia yang tak lagi muda, sang ayah kini hanya bekerja setengah hari, lalu beristirahat di rumah. “Saya tahu betul betapa kerasnya perjuangan bapak. Karena itu, saya bertekad untuk tidak membebani beliau. Saya ingin pendidikan saya menjadi jalan keluar bagi keluarga kami,” tambahnya.

 Baca juga : BSI Maslahat dan ITB Perkuat Sinergi Pendidikan Melalui Program BSI Scholarship


BSI Scholarship Menjadi Cahaya di Tengah Jalan Terjal

Ketika jalur SNBP tertutup, Rumiati tidak berhenti berjuang. Ia mencari berbagai peluang beasiswa, hingga akhirnya menemukan BSI Scholarship dari BSI Maslahat. Program ini menjadi titik balik dalam hidupnya. “BSI Scholarship bukan hanya memberi saya kesempatan kuliah, tapi juga harapan. Saya merasa dihargai, didukung, dan diberi ruang untuk tumbuh,” kata Rumiati dengan penuh rasa syukur.

BSI Scholarship  merupakan program beasiswa pendidikan jenjang SMP hingga sarjana yang dikelola oleh BSI Maslahat. BSI Scholarship hadir untuk membentuk pemimpin masa depan, umat yang berkarakter, amanah dan bisa menjadi teladan serta mampu berkontribusi dalam membangun keumatan skala nasional maupun global.

Berkat beasiswa ini, Rumiati berhasil lolos ke Universitas Diponegoro (UNDIP), salah satu kampus ternama di Indonesia. Ia kini bersiap menempuh pendidikan tinggi, membawa harapan besar untuk masa depan keluarganya.

Tidak hanya itu, BSI Maslahat juga memberikan bantuan laptop yang diserahkan oleh Ketua Umum Pengurus BSI Maslahat M. Misbahul Munir kepada Rumiati. Bantuan laptop ini diberikan sebagai dukungan tambahan untuk menunjang kegiatan akademik awardee BSI Scholarship, yang sebelumnya mengalami kesulitan karena keterbatasan perangkat.  

Di akhir wawancara, Rumiati menyampaikan pesan untuk teman-teman seusianya yang mungkin sedang menghadapi tantangan serupa. “Jangan pernah menyerah hanya karena keadaan tidak berpihak. Kita mungkin tidak bisa memilih lahir dari keluarga seperti apa, tapi kita bisa memilih untuk berjuang. Pendidikan adalah hak semua orang, dan mimpi itu sah untuk siapa saja.”

Rumiati bukan hanya anak tukang kayu. Ia adalah simbol harapan, bukti bahwa dengan tekad, kerja keras, dan dukungan yang tepat, mimpi besar bisa tumbuh dari tempat yang paling sederhana. Mari terus dukung anak Indonesia meraih impiannya melalui https://digital.bsimaslahat.or.id/peduli-pendidikan-dhuafa

Baca juga : BSI Maslahat Menggelar Seleksi Tes Tulis BSI Scholarship Pelajar 2025