Tips Istiqomah Ibadah Setelah Ramadan

Istiqomah berasal dari kata qomah yang bermakna menjalankan sesuatu secara benar dan sempurna. Istiqomah merupakan ikhtiar untuk melaksanakan perintah Allah dengan sebaik-baiknya serta dilakukan secara konsisten. Rasulullah SAW mengakui bahwa istiqomah adalah tuntunan Allah yang berat untuk dijalankan, namun bukan sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan. Oleh karena itu, diperlukan upaya berkelanjutan agar ibadah tetap terjaga setelah bulan Ramadan. Berikut beberapa tips untuk menjaga istiqomah dalam beribadah pasca-Ramadan.

Buat Perencanaan Agar Ibadah Tetap Terjaga

Dari ’Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Perencanaan merupakan pengetahuan dasar yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, ketika hendak memenuhi kebutuhan rumah tangga, diperlukan perencanaan terlebih dahulu. Setidaknya, kita perlu mencatat apa saja kebutuhan yang harus dibeli serta menentukan anggaran yang dialokasikan. Perencanaan ini berfungsi sebagai pedoman agar pengeluaran tetap terkontrol dan tidak melampaui batas, sehingga keuangan rumah tangga dapat terjaga dengan baik.

Hal serupa juga berlaku dalam menjaga istiqomah beribadah setelah bulan Ramadan. Diperlukan perencanaan yang matang agar kebaikan yang telah dibangun tidak terhenti. Setidaknya, kita perlu mengidentifikasi perilaku positif yang berhasil diperbaiki selama Ramadan serta merancang langkah-langkah untuk mencegah agar kebiasaan buruk tidak kembali terulang.

Sebagai contoh, sebelum Ramadan seseorang terbiasa melontarkan komentar negatif di media sosial. Namun, selama Ramadan ia berupaya menahan diri dan mengurangi perilaku tersebut. Maka setelah Ramadan, perlu disusun strategi agar kebiasaan buruk itu tidak kembali muncul, misalnya dengan lebih selektif dalam mengikuti akun media sosial yang berisi edukasi dan konten bermanfaat, dibandingkan konten yang memancing sikap negatif.

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Malaikat Jibril pernah berdoa dan diaminkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadan, kemudian bulan itu berlalu sementara dosa-dosanya belum diampuni oleh Allah Ta’ala.” (HR. Ahmad dan al-Bukhari).

Bertekad untuk Konsisten


Menjaga istiqomah dalam beribadah setelah bulan Ramadan juga memerlukan perencanaan yang baik. Setidaknya, kita perlu mengevaluasi perubahan perilaku positif yang berhasil dilakukan selama Ramadan, sekaligus menyusun langkah konkret agar kebiasaan buruk tidak kembali terulang.

Sebagai contoh, sebelum Ramadan seseorang terbiasa menyampaikan komentar negatif di media sosial. Namun, selama Ramadan ia berusaha menahan diri dan mengurangi perilaku tersebut. Setelah Ramadan, perlu dirancang upaya lanjutan agar kebiasaan negatif itu tidak kembali muncul, misalnya dengan lebih selektif dalam memilih konten dan mengikuti akun media sosial yang sarat dengan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai positif, dibandingkan konten yang bernuansa sindiran atau provokatif.

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Malaikat Jibril pernah berdoa dan diaminkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadan, kemudian Ramadan berlalu sementara dosa-dosanya belum diampuni oleh Allah Ta’ala.” (HR. Ahmad dan al-Bukhari).

Memulai Ibadah dari Hal yang Paling Mudah

Sesuatu yang besar tidak akan terwujud tanpa diawali dari langkah-langkah kecil. Prinsip ini selaras dengan upaya menjaga istiqomah ibadah setelah bulan Ramadan. Konsistensi dalam beribadah akan sulit dipertahankan apabila tidak dibiasakan sejak perkara-perkara sederhana yang dilakukan secara rutin.

Sahabat dapat memulai dari ibadah yang paling ringan dan mudah dilakukan. Salah satu bentuk ibadah yang paling sederhana serta dapat dilakukan oleh siapa saja adalah tersenyum. Rasulullah SAW bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Baihaqi: “Tabassumuka fii wajhi akhiika shadaqah,” yang berarti, “Senyummu ketika bertemu dengan saudaramu adalah sedekah.”

Kebiasaan tersenyum dapat dimulai dari hal paling sederhana, yakni menghadiahkan senyum kepada diri sendiri. Senyum mampu menenangkan hati sekaligus bernilai ibadah. Apabila dilakukan secara konsisten dan dilanjutkan dengan senyum kepada sesama, maka amalan kecil tersebut akan terus bertambah dan bernilai besar di sisi Allah SWT.

Selain senyum, masih banyak bentuk ibadah lain yang mudah dilakukan, seperti menyingkirkan gangguan di jalan, menolong sesama, bersedekah, dan berbagai amal kebaikan lainnya. Dalam riwayat Ad-Dailamy, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya pintu-pintu kebaikan itu sangat banyak, di antaranya tasbih, tahmid, takbir, tahlil, amar ma’ruf nahi munkar, menyingkirkan penghalang dari jalan, menolong orang lain, bahkan senyum kepada saudara pun termasuk sedekah.”

Allah SWT mencintai hamba-hamba-Nya yang senantiasa istiqomah. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Ahqaf ayat 13, “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqomah, maka tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak pula bersedih.”

Salah satu cara melatih istiqomah dalam diri adalah dengan membiasakan bersedekah. Sedekah menjadi sarana pembelajaran untuk menumbuhkan keikhlasan dan konsistensi dalam berbuat kebaikan. Sahabat dapat melatih istiqamah tersebut dengan menunaikan sedekah melalui BSI Maslahat yang dapat diakses secara mudah melalui laman digital.bsimaslahat.or.id/sedekah

Mau Sedekah Ramadan di BSI Maslahat? Klik di sini

BSI Maslahat merupakan LAZNAS dan Nazir Wakaf resmi terdaftar di Kementerian Agama RI dan BWI