Ali bin Abi Thalib, Sahabat dan Pewaris Cahaya Rasulullah 

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang paling mulia sekaligus khalifah keempat dari Khulafaur Rasyidin. Rasulullah menegaskan agar umat Islam berpegang teguh pada sunnah beliau dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk, serta menjauhi segala bentuk bid’ah. Ali memiliki kedudukan istimewa, baik sebagai keluarga maupun sahabat dekat Nabi. 

Beliau lahir di Makkah pada 13 Rajab tahun ke 30 dari peristiwa Gajah (sekitar 15 September 601 M), bahkan sebagian riwayat menyebutkan beliau lahir di dalam Ka’bah. Ayahnya adalah Abu Thalib, paman Nabi, dan ibunya Fatimah binti Asad. Ali termasuk orang pertama yang masuk Islam, ikut serta dalam Perang Badar dan peperangan besar lainnya. Beliau dikenal dengan kunyah Abul Hasan, dan juga Abu Turab nama yang paling beliau sukai. Riwayat para ulama menggambarkan ciri fisiknya seperti jenggot kekuningan, kadang diwarnai pacar, tubuh bidang, serta rambut dan jenggot yang pernah terlihat memutih.

Baca juga : Sa’id bin Zaid, Sosok Sahabat Rasulullah  yang Doanya Mustajab

Keberanian Ali tampak sejak muda. Ketika kaum Quraisy berencana menyerang Nabi, beliau rela tidur di tempat Rasulullah untuk melindungi beliau. Dalam peperangan, Ali selalu berada di garis depan sambil membawa panji, memecah barisan musuh, menaklukkan benteng, hingga menumbangkan lawan dalam duel, seperti saat Perang Badar melawan Al-Walid bin Utbah. Semua ini menunjukkan keteguhan dan keberanian beliau dalam membela Islam sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Sayyidin Nas dalam ‘uyun Al Atsar 

فلما كانت عتمة من الليل اجتمعوا على بابه يرصدونه حتى ينام ، فيثبون عليه ، فلما رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم مكانهم قال لعلي بن أبي طالب : نم على فراشي وتسج ببردي هذا الحضرمي الأخضر ، فنم عليه ، فإنه لن يخلص إليك شيء تكرهه منهم

Artinya : Ketika pemuda Quraisy berkumpul di depan pintu rumah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka memantau beliau sehingga beliau tertidur. Sehingga beliau tertidur. Sehingga mereka dapat melompat. Ketika melihat tempat mereka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Ali bin Abi Thalib, tidurlah di dipanku dan pakailah selimut hijau dari Yaman ini. Tidak akan ada hal buruk yang terjadi padamu. 

Baca juga : Umar bin Khattab Sahabat Rasulullah, Sang Pembawa Kejayaan Islam

Dibalik keberanian dan kesetiaannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam banyak kabar dusta disandarkan kepada Ali lebih dari sahabat lainnya. Di antaranya riwayat yang menyebut beliau sebagai ahli waris tunggal Nabi atau klaim bahwa beliau adalah Ash-Shiddiq Al-Akbar. Para ulama menilai riwayat-riwayat tersebut sebagai munkar atau palsu. Kisah-kisah semacam ini berpotensi menimbulkan penghambaan berlebihan terhadap beliau. Karena itu, sikap yang tepat adalah berada di tengah memuliakan Ali bin Abi Thalib sesuai kedudukannya, mengakui keutamaan dan jasanya, tetapi tetap menjaga keseimbangan agar tidak terjerumus pada sikap berlebihan maupun meremehkan.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu seorang yang keteladanan, keberanian dan pengabdian yang patut dicontoh. Sikapnya sebagai garda terdepan dalam membela Islam harus menjadi cerminan bagi kita semua, agar senantiasa menegakkan ajaran Islam dengan mengamalkan sunnah Nabi serta melaksanakan kewajiban sebagai umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan meneladani beliau, insyaallah kita akan semakin kuat dalam menjaga iman dan istiqomah di jalan kebenaran yang bisa menghadirkan kemaslahatan bagi umat.

Cari tahu Program Ramadan di BSI Maslahat? Klik di sini

BSI Maslahat merupakan LAZNAS dan Nazir Wakaf resmi terdaftar di Kementerian Agama RI dan BWI