Dari Pesanan Tetangga hingga Ribuan Paket: Transformasi Usaha Dapur Ima Bersama BSI Maslahat

Dari Pesanan Tetangga hingga Ribuan Paket: Transformasi Usaha Dapur Ima Bersama BSI Maslahat

Yogyakarta, 27 Februari 2026 – Bagi Ima Lestari (39), dapur bukan sekadar tempat memasak. Dari sanalah harapan tumbuh, doa dipanjatkan, dan masa depan perlahan dibangun.

Sebelum dikenal sebagai pemilik usaha katering “Dapur Ima”, keseharian Ima diisi dengan mengajar anak-anak membaca Al-Qur’an metode Iqro untuk tingkat TK dan SD. Di sela-sela itu, ia membantu usaha ayam potong milik sang suami. Hidupnya sederhana, namun dijalani dengan penuh rasa syukur.

Baca juga: Menenun Asa dari Kandang Itik: Kisah Hasna Bersama BSI Maslahat

Ima sendiri sebenarnya sangat gemar memasak. Sesekali ia mencoba memasak dalam jumlah lebih banyak dari biasanya, lalu menjualnya ke tetangga sekitar. Respon tetangga diluar dugaan, masakkan Ima digemari banyak orang hingga banyak yang menawarkan pesanan dalam jumlah besar.

Namun saat itu, Ima belum cukup percaya diri untuk menerimanya. Ia menyadari bahwa meskipun masakannya diminati, peralatan memasaknya masih belum lengkap. Ia belum memiliki modal yang cukup untuk membeli peralatan masak yang lengkap dan memadai. “Saya harus menyewa peralatan masak ke RT,” kenangnya.

Meski demikian, dukungan dari keluarga dan respon positif tetangga yang sangat menyukai masakannya, menjadi bahan bakar yang menyalakkan semangatnya. Akhirnya, Ima mantap untuk membuka usaha catering kecil-kecilan. Ia percaya, usaha yang dijalani dengan kesabaran dan kesungguhan tidak akan pernah sia-sia.

Dari Pesanan Tetangga hingga Ribuan Paket: Transformasi Usaha Dapur Ima Bersama BSI Maslahat

Walaupun usahanya terbilang masih kecil, katering Ima telah memiliki pelanggan tetap. Salah satu pesanan rutinnya adalah paket makanan Jumat Berkah di Masjid Kampus Walidah Dahlan, dengan jumlah pesanan antara 100 hingga 200 kotak nasi di setiap hari Jumat. Beberapa kali, ia juga menerima pesanan dalam jumlah besar hingga 500 kotak untuk kegiatan Pemerintah Daerah setempat.

Ia dengan giat dan penuh ketekunan menjalani usaha catering nya tersebut. Ia yakin, usaha yang dijalani penuh kesabaran dan ketekunan akan menghasilkan hasil yang luar biasa, karena Allah Taala memberikan sesuatu melihat dari kesungguhan hamba-Nya. Ima yakin, suatu saat nanti ia akan memiliki peralatan masak yang lengkap dan memadai, sehingga usaha katerinya nya tersebut bisa berkembang pesat dan naik kelas.

Tahun 2018 menjadi titik penting dalam hidupnya. Saat mengikuti kegiatan PKK, Ima mendapat sosialisasi program dari BWM UNISA yang diinisiasi oleh BSI Maslahat. Bagi Ima, momen itu seperti jawaban atas doa-doa panjang yang ia panjatkan.Ima melihat peluang dan harapan untuk bisa mengembangkan usaha kateringnya.

Ima pun resmi bergabung sebagai salah satu nasabah BWM UNISA. Ia memperoleh pembiayaan awal sebesar Rp1.000.000 sebagai nasabah BWM UNISA.“Saya mulai menyicil membeli alat masak,” ungkap Ima.

Nominal tersebut memang belum sepenuhnya mencukupi. Namun kepercayaan pelanggan kembali menjadi jalan keluar. Banyak yang bersedia memberikan uang muka, bahkan melunasi pembayaran di awal. Dukungan itu membuat langkah Ima semakin mantap.

Baca juga: BSI Maslahat Gelar Pelatihan dan Workshop Pengembangan Skema Bisnis LKMS-BWM 

Pada tahun 2019, Ima mulai menguatkan identitas branding kateringnya dengan sebutan “Dapur Ima”. Selain usaha ayam potong dan katering yang terus berjalan, ia mulai merambah variasi menu lainnya seperti ayam ingkung, ayam bakar, dan ayam bacem. Ima juga memproduksi makanan ringan (snack) yang awalnya, ia titipkan makanan ringan buatannya ke pasar. “Ternyata laris, saya pun coba membuat martabak dan dadar gulung,” ujarnya tersenyum.

Seiring waktu, Dapur Ima terus berkembang. Ia mulai memproduksi sambal kemasan sebagai produk unggulan. Dengan pendampingan dari BWM UNISA, ia juga mengurus sertifikasi halal dan memperbaiki kemasan produknya agar lebih profesional dan menarik.

Dari modal Rp1 juta, omzet awal Dapur Ima berada di kisaran Rp3 juta – Rp5 juta per bulan. Semua ia kerjakan sendiri. Namun kesabaran dan konsistensinya membuahkan hasil. Memasuki 2024, Dapur Ima mampu melayani pesanan dalam jumlah besar hingga ribuan paket. Omzetnya pun melonjak ke kisaran Rp15 juta – Rp25 juta per bulan.

Dari Pesanan Tetangga hingga Ribuan Paket: Transformasi Usaha Dapur Ima Bersama BSI Maslahat

Yang lebih membahagiakan, pertumbuhan usaha itu turut membawa keberkahan bagi lingkungan sekitar. Ima kini melibatkan 11 orang tetangganya untuk membantu memasak dan mengemas pesanan. “Saya minta tolong 11 orang tetangga saya,” ujarnya penuh syukur.

Hingga hari ini, Dapur Ima telah memiliki sekitar 50 pelanggan loyal. Dari dapur sederhana yang pernah kekurangan alat, kini lahir usaha yang bukan hanya menghidupi keluarga, tetapi juga menguatkan banyak harapan orang di sekitarnya.

Kisah Ima mengajarkan satu hal penting: modal boleh kecil, tetapi harapan tidak boleh padam. Ketika doa, ketekunan, dan dukungan bertemu, jalan menuju keberhasilan akan selalu terbuka. Lebih dari itu, kisah ini menjadi bukti bahwa pemanfaatan dana zakat tidak hanya berhenti sebagai bantuan sesaat, melainkan dapat menjadi tonggak pendorong kemandirian ekonomi umat yang berkelanjutan.

Baca juga: BSI Maslahat Gelar Pelatihan, Tingkatkan Kapasitas Nasabah BWM di Ambon Maluku

Setiap zakat yang disalurkan melalui BSI Maslahat menghadirkan dampak nyata, menumbuhkan usaha, membuka lapangan kerja, dan menghadirkan maslahat untuk bangsa.

Ingin lebih tahu terkait LMKS BWM di BSI Maslahat? Klik di sini

BSI Maslahat merupakan LAZNAS dan Nazir Wakaf resmi terdaftar di Kementerian Agama RI dan BWI