Etika Bermasyarakat Menurut Islam yang Perlu Diamalkan

Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin, yaitu agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan sesama. Dalam kehidupan sehari-hari, hubungan sosial atau muamalah menjadi bagian penting dari ajaran Islam yang harus dijaga dengan adab, akhlak, dan kepedulian.

Di tengah kehidupan modern yang semakin cepat, terutama di masyarakat urban, nilai-nilai sosial sering kali mulai terabaikan. Banyak orang sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga hal sederhana seperti menyapa tetangga, tersenyum, membantu orang sekitar, atau menjaga kenyamanan lingkungan mulai jarang dilakukan. Padahal, manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain.

Dalam Islam, tetangga memiliki kedudukan yang sangat penting. Tetangga adalah lingkungan terdekat setelah keluarga. Karena itu, menjaga hubungan baik dengan tetangga menjadi salah satu bentuk pengamalan akhlak seorang Muslim. Berikut beberapa adab muamalah dan bermasyarakat sesuai ajaran Islam.

  1. Berbuat Baik kepada Sesama

Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk berbuat baik kepada orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, dan tetangga. Perintah ini dijelaskan dalam QS. An-Nisa ayat 36:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ

Artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat, dan tetangga jauh.” (QS. An-Nisa: 36)

Berbuat baik tidak selalu harus dalam bentuk besar. Bahkan senyum yang tulus juga bernilai kebaikan. Rasulullah SAW bersabda:

لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

Artinya: “Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikit pun, meskipun hanya bertemu saudaramu dengan wajah yang ceria.” (HR. Muslim)

  1. Menghargai Tetangga Meski Berbeda Keyakinan

Islam mengajarkan umatnya untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada siapa pun, selama mereka tidak memerangi atau mengusir kaum Muslimin. Perbedaan agama, suku, budaya, maupun latar belakang sosial tidak boleh menjadi alasan untuk bersikap buruk.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Mumtahanah ayat 8:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Artinya: “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah: 8)

Ayat ini menjadi dasar penting dalam membangun kehidupan sosial yang damai, saling menghormati, dan penuh toleransi.

  1. Tidak Mengganggu Kenyamanan Orang Lain

Adab bermasyarakat juga berarti menjaga agar ucapan, perilaku, dan aktivitas kita tidak mengganggu orang lain. Misalnya tidak menyalakan suara terlalu keras, tidak membuang sampah sembarangan, tidak berkata kasar, serta tidak membuat keributan yang mengganggu tetangga.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ

Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia mengganggu tetangganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa menjaga kenyamanan tetangga adalah bagian dari kesempurnaan iman seorang Muslim.

  1. Berbagi Makanan dan Membantu yang Membutuhkan

Islam menganjurkan umatnya untuk peduli kepada tetangga, terutama ketika mereka sedang kesulitan. Salah satu bentuk sederhana adalah berbagi makanan. Rasulullah SAW bersabda kepada Abu Dzar RA:

يَا أَبَا ذَرٍّ، إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا، وَتَعَاهَدْ جِيرَانَكَ

Artinya: “Wahai Abu Dzar, apabila engkau memasak kuah, perbanyaklah airnya, lalu berikanlah kepada tetanggamu.” (HR. Muslim)

Berbagi makanan mungkin tampak sederhana, tetapi dapat mempererat silaturahmi, menumbuhkan kasih sayang, dan membangun kepedulian sosial di lingkungan sekitar.

  1. Sabar Menghadapi Gangguan

Dalam kehidupan bermasyarakat, tidak semua hal berjalan sesuai harapan. Terkadang ada tetangga atau orang sekitar yang bersikap kurang menyenangkan. Islam mengajarkan umatnya untuk bersabar, menahan emosi, dan tetap membalas keburukan dengan kebaikan selama masih memungkinkan.

Sabar dalam bermasyarakat bukan berarti lemah, tetapi menunjukkan kedewasaan akhlak. Dengan kesabaran, konflik dapat diredam dan hubungan sosial dapat tetap terjaga.

  1. Menunaikan Hak-Hak Tetangga

Tetangga memiliki hak yang perlu diperhatikan. Jika sakit, ia layak dijenguk. Jika mengalami musibah, ia perlu dikuatkan. Jika membutuhkan bantuan, semampunya kita menolong. Jika mendapat kebahagiaan, kita ikut mendoakan dan mengucapkan selamat.

Adab seperti ini akan membangun lingkungan yang sehat, hangat, dan saling menguatkan. Masyarakat yang baik bukan hanya dibangun oleh aturan, tetapi juga oleh kepedulian antarwarganya.

Pada akhirnya, adab muamalah adalah cerminan kualitas iman seorang Muslim. Islam mengajarkan bahwa ibadah tidak hanya tampak dalam salat, puasa, dan zikir, tetapi juga dalam cara kita memperlakukan orang lain. Ketika seorang Muslim mampu menjaga lisannya, menghormati tetangganya, membantu yang membutuhkan, dan menghadirkan rasa aman bagi sekitarnya, maka ia sedang menunjukkan keindahan ajaran Islam.

Semoga kita dapat mengamalkan adab bermasyarakat ini dalam kehidupan sehari-hari. Dengan akhlak yang baik, kehadiran kita dapat menjadi sumber ketenangan, kebaikan, dan maslahat bagi lingkungan sekitar.

Mau tahu tentang BSI Maslahat?  Klik di sini

BSI Maslahat adalah Lembaga Amil Zakat dan Nazhir Wakaf Nasional resmi terdaftar di Kementerian Agama RI dan BWI