Jakarta, 24 Februari 2026 – Di pemukiman padat penduduk Pinang Ranti, di mana rumah berdempetan dan lorong-lorong sempit menjadi jalan hidup sehari-hari, para ibu menjalani peran besar dengan terbatas. Ada yang berangkat pagi-pagi memulung plastik untuk bisa makan, ada yang membuka lapak kecil di depan rumah sambil menggendong balita, ada yang bekerja harian sebagai buruh, dan ada pula yang sepanjang hari berjaga di rumah.
Di tengah segala keterbatasan itu, para ibu di kampung pemulung Pinang Ranti memiliki satu keinginan yang sama yaitu bisa memberi kehidupan yang lebih baik untuk keluarga. Dari keinginan itulah, BSI Maslahat menghadirkan Program EcoPreneurs Mom’s, sebuah ruang belajar dan pemberdayaan bagi 80 ibu rumah tangga untuk memiliki keterampilan bercocok tanam hidroponik sekaligus kemampuan literasi keuangan yang aplikatif dan berkelanjutan. Program ini membuka harapan baru bagi para ibu untuk memiliki penghasilan tambahan yang bisa dilakukan dari rumah, tanpa meninggalkan anak dan pekerjaan harian mereka.
Program ini salah satunya diinisiasi oleh Adam Merdeka, alumni BSI Maslahat Sociopreneur angkatan 2022. BSI Maslahat Sociopreneur merupakan program inkubasi kepemimpinan sosial yang dirancang untuk melahirkan anak muda yang peduli, inovatif, dan mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat melalui pendekatan berbasis pemberdayaan. Gagasan Adam tentang pemberdayaan ibu rumah tangga melalui urban farming hidroponik kemudian berkembang menjadi cikal bakal EcoPreneurs Mom’s. Melihat nilai manfaat yang besar,BSI Maslahat menyambut baik inisiatif tersebut dan memberikan dukungan penuh agar program ini dapat berdampak dan berkelanjutan bagi para ibu di kawasan pemukiman padat penduduk.

BSI Maslahat membekali para ibu dengan guidebook modul hidroponik serta pendampingan intensif setiap 7–10 hari. Lokasi praktik berada di area sebelah Pojok Baca dan Ruang Tumbuh BSI Maslahat, tempat anak-anak belajar literasi dan tumbuh bersama. Di satu sisi anak-anak membaca cerita, menghitung angka, dan bermain edukatif, di sisi lain para ibu menanam sawi, pakcoy, hingga bibit kentang dengan tangan mereka sendiri.
Setiap pekan, para ibu berkumpul dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Banyak di antara mereka baru pertama kali menyentuh media tanam atau memegang benih. Ada pula yang datang dengan membawa anak kecil karena tidak punya pilihan lain. Namun suasana hangat yang dibangun membuat setiap ibu merasa diterima, dihargai, dan ditemani.
Baca juga : Dari Ruang Sempit ke Ruang Tumbuh, Upaya BSI Maslahat Mengubah Cerita Anak Marginal di Pinang Ranti
Pembelajaran Baru Bagi Para Ibu
Para ibu mengikuti empat pembelajaran yang dirancang untuk membangun kemampuan menanam, mengelola, memahami, dan menghasilkan dari rumah mereka sendiri. Pembelajaran dimulai dari edukasi dasar hidroponik. Di tahap ini, para ibu diperkenalkan pada prinsip-prinsip dasar bercocok tanam hidroponik mulai dari penggunaan alat sederhana, cara meracik media tanam yang murah, hingga memahami kebutuhan sinar matahari bagi tanaman. Penjelasan disampaikan perlahan dan bertahap agar para ibu yang tidak terbiasa belajar dalam ruang formal tetap dapat mengikuti setiap prosesnya.

Setelah memahami teori dasar, mereka masuk pada sesi praktik yang menjadi bagian paling dinantikan. Bersama-sama, para ibu mengisi polybag, menebarkan benih secara tipis, menutupinya dengan lapisan tanah halus, lalu menunggu tunas kecil muncul sebagai tanda kehidupan pertama. Mereka belajar bagaimana menjaga media tetap lembap tanpa membuatnya becek, memindahkan tanaman setelah dua hingga tiga hari, serta memastikan tanaman terpapar cahaya matahari empat hingga enam jam setiap hari.

Setelah memahami proses menanam, para ibu juga dibekali kemampuan literasi keuangan untuk memperkuat pengelolaan ekonomi keluarga. Mereka belajar mencatat pengeluaran harian, memisahkan kebutuhan dan keinginan, hingga memahami konsep untung rugi dengan cara yang sederhana. Materi ini sangat relevan karena sebagian besar dari mereka hidup dengan pendapatan harian yang tidak pasti. Melalui pembekalan ini, para ibu mulai memahami bahwa setiap rupiah yang masuk perlu dikelola dengan cermat agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi. Pembelajaran kemudian memasuki tahapan yang mendorong kemandirian ekonomi, yaitu entrepreneurship dan pemasaran. Para ibu diajarkan bagaimana mengubah hasil panen menjadi peluang usaha.

Selama satu hingga dua bulan, para ibu merawat tanaman mereka masing-masing di halaman sebelah Pojok Baca dan Ruang Tumbuh BSI Maslahat. Pada bulan Maret mendatang, mereka akan melihat hasil panen pertama, momen yang dinantikan untuk menilai apakah tanaman cukup untuk dikonsumsi sendiri, berpotensi dijual, atau bahkan bisa diolah menjadi produk turunan yang bernilai ekonomi lebih tinggi.
Baca juga : Menenun Asa dari Kandang Itik: Kisah Hasna Bersama BSI Maslahat
Dari Tangan Ibu, Tumbuh Kemandirian Baru
Program EcoPreneurs Mom’s adalah wujud nyata komitmen BSI Maslahat dalam menghadirkan maslahat yang berdampak bagi keluarga prasejahtera. Dengan bertumbuhnya kemampuan para ibu ini, BSI Maslahat berharap semakin banyak keluarga yang dapat berdiri lebih kuat secara ekonomi, lebih bijak dalam mengelola keuangan, dan lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Pada akhirnya, dari pemukiman padat Pinang Ranti, sebuah cerita baru sedang dimulai, menuju keluarga yang lebih berdaya, lingkungan yang lebih hijau, dan masa depan yang lebih layak bagi generasi berikutnya.
Ingin lebih tahu terkait BSI Maslahat? Klik di sini
BSI Maslahat merupakan LAZNAS dan Nazir Wakaf resmi terdaftar di Kementerian Agama RI dan BWI

