Hikmah JUBAH BSI Maslahat, Sabar sebagai Cahaya Kehidupan 

Jakarta, 18 April 2026 – Dalam rangka mengawali akhir pekan dengan semangat kebaikan dan penguatan iman, BSI Maslahat kembali menggelar kajian rutin JUBAH (Jum’at Bahagia) pada Jum’at, 17 April 2026. Kajian kali ini menghadirkan Ustadz Dr. Muh. Yusuf Siddik, MA. sebagai narasumber, dengan pembahasan yang diambil dari Kitab Riyadusshalihin karya Imam An-Nawawi, khususnya pada Bab Sabar.

Materi yang disampaikan mengajak seluruh peserta untuk merenungi kembali makna sabar sebagai fondasi utama dalam menjalani kehidupan, terutama di tengah berbagai ujian dan dinamika hidup yang kian kompleks.

Sabar adalah Perintah Allah yang Wajib Ditunaikan

Ustadz Siddik menegaskan bahwa sabar merupakan perintah langsung dari Allah SWT dan hukumnya wajib. Sabar bukan sekadar sikap pasrah tanpa usaha, melainkan kesungguhan hati untuk terus berjuang menjaga ketaatan di tengah tantangan. Allah SWT menguji setiap hamba-Nya dengan kadar yang berbeda-beda, sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Allah SWT berfirman,

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا اصۡبِرُوۡا وَصَابِرُوۡا وَرَابِطُوۡا وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ‏

“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali ‘Imran:200)

Ayat ini menegaskan bahwa kesabaran bukan sikap lemah, tetapi justru kekuatan spiritual yang mengantarkan seorang mukmin menuju keberuntungan sejati.

Sabar dan Salat : Dua Kunci Menghadapi Ujian

Dalam menghadapi cobaan hidup, Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk meminta pertolongan dengan sabar dan salat. Keduanya saling beriringan dan tidak dapat dipisahkan. Meninggalkan sabar atau mengabaikan salat berarti menjerumuskan diri dalam dosa.

Sabar dimaknai sebagai kemampuan seseorang mengendalikan diri agar tidak meninggalkan kewajiban dan tetap taat kepada Allah, meskipun terasa berat. Oleh karena itu, Sabar juga menjadi penjaga iman agar tetap teguh dalam situasi apa pun.

Tiga Bentuk Sabar dalam Kehidupan

Ustadz Siddik menjelaskan bahwa sabar memiliki tiga bentuk utama dalam kehidupan seorang muslim:

  1. Sabar dalam menjalankan perintah Allah, seperti salat, puasa Ramadhan, berbuat kebaikan, serta memaafkan kesalahan orang lain.
  2. Sabar dalam meninggalkan larangan Allah, yakni menahan diri dari perbuatan maksiat dan hal-hal yang diharamkan.
  3. Sabar dalam menghadapi ujian dan takdir Allah, baik berupa kesempitan rezeki, sakit, kehilangan, maupun kesedihan.

Allah SWT berfirman,

وَلَـنَبۡلُوَنَّكُمۡ بِشَىۡءٍ مِّنَ الۡخَـوۡفِ وَالۡجُـوۡعِ وَنَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَالۡاَنۡفُسِ وَالثَّمَرٰتِؕ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيۡنَۙ‏

“Dan sungguh Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah:155)

Ayat ini menjadi penguat bahwa setiap ujian selalu disertai kabar gembira bagi mereka yang mampu bersabar.

Keutamaan Sabar yang Tak Terhingga

Orang-orang yang bersabar dijanjikan pahala yang tidak terhitung oleh Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya dalam

قُلۡ يٰعِبَادِ الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوۡا رَبَّكُمۡ ؕ لِلَّذِيۡنَ اَحۡسَنُوۡا فِىۡ هٰذِهِ الدُّنۡيَا حَسَنَةٌ ؕ وَاَرۡضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌ ؕ اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوۡنَ اَجۡرَهُمۡ بِغَيۡرِ حِسَابٍ‏

“Katakanlah (Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu.” Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas..” (QS. Az-Zumar:10)

Ustadz Siddik menjelaskan bahwa sabar tidak memiliki batas, karena sabar adalah ibadah. Bahkan, sabar dan memaafkan merupakan perkara yang sangat berat, tetapi pahalanya luar biasa besar.

Orang yang sedang menjalankan kesabaran juga termasuk golongan yang doanya mustajab, karena Allah selalu bersama orang-orang yang sabar.

Marah, Ridha, dan Cahaya Kesabaran

Dalam kajian ini juga disampaikan bahwa marah pada dasarnya memiliki potensi dosa, kecuali jika marah karena Allah, seperti melihat kemungkaran, kemaksiatan, atau orang yang meninggalkan kewajiban salat. Selain itu, sebagai hamba Allah, kita tidak boleh tidak ridha terhadap keputusan-Nya, karena semua takdir Allah mengandung hikmah.

Sabar disebut sebagai cahaya, sebagaimana salat. Dengan sabar, seseorang mampu membedakan mana yang baik dan mana yang tidak pantas dilakukan.

Menangis bukanlah tanda ketidaksabaran. Menangis diperbolehkan selama tidak disertai dengan raungan, ratapan berlebihan, dan penolakan terhadap takdir Allah.

Bersyukur dalam Segala Keadaan

Salah satu pesan penting dalam kajian ini adalah membiasakan mengucapkan “Alhamdulillah ‘ala kulli hal” (Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan), baik dalam senang maupun susah. Ucapan syukur yang dilandasi niat karena Allah akan memberatkan timbangan kebaikan di akhirat, dengan pahala yang digambarkan sepenuh langit dan bumi.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Yahya Suhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu:

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah kebaikan. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur dan itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar dan itu pun baik baginya.”

Menjaga Kesucian sebagai Pondasi Ibadah

Sebagai penutup, Ustadz Siddik mengingatkan pentingnya selalu menjaga kondisi bersuci, karena bersuci adalah setengah dari iman dan menjadi pondasi sahnya salat. Tanpa salat, iman seseorang tidak sempurna. Salat pula yang menjadi pembeda utama antara seorang muslim dan nonmuslim.

Melalui kajian JUBAH ini, diharapkan seluruh peserta semakin memahami bahwa sabar bukan sekadar menahan perasaan, tetapi upaya sadar untuk tetap taat, ridha, dan bersyukur dalam setiap keadaan. Dengan sabar, hidup menjadi lebih tenang, iman semakin kuat, dan kebahagiaan sejati pun dapat diraih.

Mau Sedekah di BSI Maslahat? Klik di sini

BSI Maslahat adalah Lembaga Amil Zakat dan Nazhir Wakaf Nasional resmi terdaftar di Kementerian Agama RI dan BWI