Nasihat Ali Bin Abi Thalib Tentang Kekayaan

Ali bin Abi Thalib dikenal sebagai salah satu tokoh besar dalam sejarah Islam. Ia adalah sahabat Rasulullah SAW, sekaligus bagian dari keluarga Nabi yang penuh keteladanan. Ali bukan hanya masyhur karena keluasan ilmunya, tetapi juga karena sikap hidupnya yang sederhana, meski ia memegang amanah besar sebagai seorang pemimpin.

Dalam kitab Manhaj Ali fid Dakwati ilallah diceritakan pada suatu hari, Ali bin Abi Thalib memenuhi undangan seorang saudagar kaya bernama ‘Ala bin Ziyad Al-Haritsi. Saat memasuki rumah ‘Ala yang begitu luas dan megah, Ali pun berkata dengan penuh makna, “Wahai ‘Ala, apa manfaat rumah sebesar ini bagimu, sementara kelak engkau akan membutuhkan rumah yang jauh lebih besar dan lebih indah di akhirat?”

Baca juga : Ali bin Abi Thalib, Sahabat dan Pewaris Cahaya Rasulullah 

Sebelumnya, ‘Ala sempat menduga bahwa Ali hidup dalam kemewahan karena jabatannya sebagai khalifah. Namun anggapan itu keliru. Kekuasaan tidak membuat Ali larut dalam gemerlap dunia.

Dalam hati, Ali memahami bahwa kekayaan yang dimiliki ‘Ala diperoleh melalui cara yang halal dan jerih payahnya sendiri. Ia menyadari bahwa harta tersebut sejatinya dapat menjadi sarana untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Tak lama kemudian, Ali pun memberikan nasihat yang penuh kebijaksanaan. “Wahai ‘Ala, rumah besar yang engkau miliki ini dapat menjadi kendaraan yang mengantarkanmu menuju rumah yang lebih mulia di akhirat.” ujar Ali

‘Ala pun bertanya dengan penuh rasa ingin tahu, “Bagaimana caranya, wahai Amirul Mukminin?”

Ali menjawab, “Bukalah rumahmu bagi orang-orang yang membutuhkan, jadikan tempat untuk menyambung silaturahmi sesama Muslim, bela hak-hak kaum Muslimin, dan penuhi kebutuhan saudara-saudaramu. Jangan biarkan rumah ini hanya menjadi simbol kepentingan dan keserakahan pribadi.”

Nasihat Ali bin Abi Thalib sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an,

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَآ أَنفَقُوا۟ مَنًّۭا وَلَآ أَذًۭى ۙ لَّهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ٢٦٢

Artinya : “Orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang dia infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.”

Baca juga : 10 Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga oleh Rasulullah

 Pada dasarnya, Islam tidak pernah melarang umatnya memiliki harta yang banyak. Justru dari harta itulah, seseorang dapat memperluas amal kebaikan dan memberi manfaat bagi sesama. Segala yang kita miliki di dunia ini sejatinya hanyalah titipan dan sarana untuk menyiapkan bekal menuju akhirat.

Karena itu, manfaatkanlah rezeki yang Allah anugerahkan sebagai jalan untuk menebar kebaikan. Jangan lupa menyedekahkan sebagian harta dan menggunakannya untuk membantu lebih banyak orang yang membutuhkan. Sebab, sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling banyak memberi manfaat bagi sesamanya.

Sebagai wujud meneladani pesan Ali bin Abi Thalib untuk memanfaatkan harta pada jalan kebaikan, Sahabat bisa mengambil peran dalam membantu sesama melalui BSI Maslahat. Dengan menyalurkan sedekah melalui BSI Maslahat, kebaikan Sahabat akan menjangkau lebih banyak orang dan memberi dampak nyata bagi mereka yang membutuhkan.

Yuk, jadikan harta sebagai kendaraan menuju kebaikan dan keberkahan. Sedekah sekarang bersama BSI Maslahat, agar manfaatnya terus mengalir hingga akhirat.

Mau sedekah di BSI Maslahat? Klik di sini

BSI Maslahat adalah Lembaga Amil Zakat dan Nazhir Wakaf Nasional resmi terdaftar di Kementerian Agama RI dan BWI