Hari Mangrove Sedunia: Memelihara Hutan Bakau untuk Masa Depan Bumi

\"Hari

Tanggal 26 Juli 2023 diproklamasikan sebagai hari mangrove internasional oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization), badan PBB yang menangani Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan.

 

Hari Mangrove Internasional adalah kesempatan bagi masyarakat untuk memahami, menghargai, dan berkontribusi dalam memelihara hutan bakau yang rentan dan penting ini.

 

Baca juga: Mitigasi Tsunami, BSI bersama BSI Maslahat Tanam 2.500 Bibit Pandan Laut di Lebak Banten

 

Sejarah Hari Mangrove Internasional

 

Penetapan hari mangrove internasional ini diusulkan oleh Ekuador dengan dukungan dari GRULAC (Group of Latin America and Caribbean). Ekuador dan negara-negara anggota GRULAC selama belasan tahun sebelumnya telah merayakan hari bakau setiap tanggal 26 Juli. Pada tanggal tersebut, tahun 1998, terjadi aksi besar di Ekuador yang melibatkan organisasi lingkungan dari beberapa negara tetangga, seperti Honduras, Guatemala, dan Kolombia. Aksi ini perlawanan perlawanan terhadap penebangan mangrove yang semakin merajalela. Tragisnya, salah seorang aktivis lingkungan yang ikut dalam aksi bersama tersebut mengalami serangan jantung dan meninggal dunia.

 

Kejadian tanggal 26 Juli 1998 menjadi momen emosional bagi warga Ekuador dan sekitarnya sehingga diperingati setiap tahun sebagai hari mangrove.

 

Baca juga: BSI Maslahat Berikan Bantuan kepada UMKM di Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan

 

Pemicu utama aksi mangrove tersebut adalah maraknya mencetak tambak udang dengan membabat ekosistem mangrove. Hal itu untuk memenuhi tingginya permintaan pasar komoditas udang dari Amerika, Eropa, dan Jepang. Sayangnya, konversi mangrove menjadi tambak dilakukan secara membabi-buta. Bahkan masyarakat setempat banyak yang terusir dari tanah miliknya, sementara di sisi lain tanah dan udara mengalami polusi.

 

Aksi Mangrove Indonesia

 

Konversi mangrove menjadi lahan tambak bukan hanya terjadi di Ekuador, tapi juga di berbagai negara. Secara global, menurut Ellison (2008), konversi mangrove menjadi tambak sebanding dengan 52% dari kehilangan mangrove di planet ini.

 

Kondisi yang sama terjadi di Indonesia dimana penyebab utama kehilangan mangrove adalah konversi mangrove menjadi lahan tambak. Masalahnya menjadi kompleks karena sebagian lahan tambak hasil konversi menjadi lahan yang tidak produktif alias tambak terbengkalai (kolam terbengkalai).

 

Di Brebes tahun 1980-an, misalnya, terjadi konversi mangrove secara besar-besaran menjadi lahan tambak. Sama seperti di Ekuador, pembukaan tambak udang ini untuk memenuhi permintaan pasar dunia yang sangat tinggi. Namun sayangnya, pengelolaan tambak dilakukan dengan cara yang tidak ramah lingkungan, sehingga gagal panen sering terjadi. Akhirnya, tambak-tambak ini mulai ditinggalkan dan terbengkalai. Di sisi lain, abrasi pantai mulai menyusur permukiman warga seiring dengan hilangnya mangrove sebagai pelindung pantai. Beberapa keluarga terpaksa meninggalkan halaman kampung.

 

Baca juga: Kampanyekan Keuangan Berkelanjutan, BSI Luncurkan Gerakan BSI Sustainable Movement

 

Selain di Brebes, daerah lain membuktikan peran mangrove sebagai pelindung pantai alami ketika terjadi bencana tsunami. Saat tsunami menerjang Aceh tahun 2004, Simeulue merupakan salah satu daerah dengan korban paling kecil karena ekosistem mangrovenya yang lebat mampu meredam energi ombak tsunami. Selain karena terawatnya kearifan lokal dalam menghadapi smong (tsunami).

 

Kisah yang sama terjadi di Kabonga Besar, Donggala, saat tsunami melanda Teluk Palu tahun 2018 lalu. Korban tsunami relatif kecil dibandingkan daerah-daerah lain di Teluk Palu. Ini karena warga desa merawat mangrove dengan tekun selama bertahun-tahun dengan formasi benteng pantai.

 

Pemerintah mengakui aksi lokal di berbagai daerah tersebut dengan memberikan apresiasi nasional dalam bentuk penghargaan Kalpataru. Mashadi adalah salah satu penerima Kalpataru dari Brebes yang diberikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia. Selain Mashadi, beberapa tokoh lokal lainnya mendapat penghargaan Kalpataru karena dinilai telah berjuang dengan sepenuh hati dalam konservasi mangrove, seperti Aziil Anwar dari Majene (Sulawesi Barat), Ishak Idris dari Kota Sabang (Aceh), Agus Bei dari Balikpapan (Kalimantan Timur), dan tokoh daerah lainnya.

 

Moratorium Mangrove

 

Yang menjadi catatan penting adalah kesadaran masyarakat lokal dalam menyelamatkan mangrove masih bersifat parsial dan belum merata di semua daerah di Indonesia. Masih banyak daerah yang tidak berpikir panjang hingga menebang mangrove yang tersisa. Secara nasional, KLHK (2015) melaporkan 1,82 juta hektar mangrove Indonesia dalam keadaan rusak. Luasan mangrove yang rusak ini lebih dari setengah mangrove nasional.

 

Karena itu dibutuhkan dorongan yang lebih besar dari pemerintah dalam menjaga mangrove, misalnya dengan membuat kebijakan moratorium penebangan mangrove secara nasional.

 

Dengan kebijakan moratorium, mangrove yang tersisa harus dipertahankan keutuhannya. Tidak boleh lagi ada penebangan mangrove di daerah. Sementara lahan tambak yang terbengkalai direhabilitasi kembali menjadi mangrove.

 

BSI Maslahat    merupakan mitra strategi dari PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) dalam melakukan penghimpunan dan penyaluran dana ZISWAF, CSR dan Dana Sosial yang berpacu pada keikutsertaan. Sehingga pemanfaatan programnya dapat berdampak luas.  

Pada tahun ini,    BSI Maslahat    mempunyai campaign dan produk baru diantaranya Give 20k dan goamal.org. Untuk program campaign Give 20k meliputi, ekonomi, pendidikan, kemanusiaan, masjid dan lain sebagainya.

 

Sedangkan    goamal.org    adalah platform sedekah online penghimpun dana zakat, infak, dan wakaf yang dikelola oleh BSI Maslahat. Melalui    goamal.org    pembayaran donasi bisa berapa saja, dimana saja, dan kapan saja. Selain itu dapat memilih program yang ingin didonasikan.