Mengenal Qantharah, Tempat Qishash Calon Penghuni Surga

Setiap Muslim tentu berharap dapat menjadi penghuni surga. Namun, perjalanan menuju surga bukan hanya tentang banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga tentang bersihnya hati dan selesainya urusan dengan sesama manusia.

Dalam ajaran Islam, ada satu istilah penting yang mungkin belum terlalu akrab di telinga sebagian umat Muslim, yaitu qantharah. Qantharah adalah tempat antara surga dan neraka yang dilalui orang-orang beriman setelah mereka selamat melewati shirath, yaitu jembatan yang terbentang di atas neraka Jahanam.

Di qantharah, orang-orang beriman akan mengalami proses penyucian terakhir sebelum diizinkan masuk ke dalam surga. Mereka bukan lagi calon penghuni neraka, tetapi masih ada urusan antarsesama manusia yang perlu diselesaikan. Di tempat inilah dilakukan qishash atau penyelesaian atas kezaliman yang pernah terjadi di dunia.

Hadis tentang Qantharah

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَخْلُصُ الْمُؤْمِنُونَ مِنَ النَّارِ، فَيُحْبَسُونَ عَلَى قَنْطَرَةٍ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، فَيُقَصُّ لِبَعْضِهِمْ مِنْ بَعْضٍ مَظَالِمُ كَانَتْ بَيْنَهُمْ فِي الدُّنْيَا، حَتَّى إِذَا هُذِّبُوا وَنُقُّوا أُذِنَ لَهُمْ فِي دُخُولِ الْجَنَّةِ، فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَأَحَدُهُمْ أَهْدَى بِمَنْزِلِهِ فِي الْجَنَّةِ مِنْهُ بِمَنْزِلِهِ كَانَ فِي الدُّنْيَا

Artinya: “Orang-orang beriman diselamatkan dari neraka, lalu mereka ditahan di atas qantharah antara surga dan neraka. Kemudian sebagian mereka diqishash atas sebagian yang lain karena kezaliman yang terjadi di antara mereka ketika di dunia. Hingga apabila mereka telah dibersihkan dan disucikan, mereka pun diizinkan masuk surga. Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh salah seorang dari mereka lebih mengetahui tempat tinggalnya di surga daripada tempat tinggalnya ketika di dunia.” (HR. Bukhari)

Hadis ini memberikan pelajaran besar bahwa urusan dengan sesama manusia tidak boleh diremehkan. Seseorang bisa saja selamat melewati shirath, tetapi masih harus melalui proses pembersihan dari sisa-sisa kezaliman, dendam, dan ganjalan hati sebelum masuk surga.

Penjelasan Ulama tentang Qantharah

Dalam kitab Fathul Baari, Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan tentang qantharah:

الَّذِي يَظْهَرُ أَنَّهَا طَرَفُ الصِّرَاطِ مِمَّا يَلِي الْجَنَّةَ، وَيُحْتَمَلُ أَنْ تَكُونَ مِنْ غَيْرِهِ بَيْنَ الصِّرَاطِ وَالْجَنَّةِ

Artinya: “Yang tampak, qantharah adalah ujung shirath yang mengarah ke surga. Dan ada kemungkinan bahwa qantharah adalah tempat lain antara shirath dan surga.”

Dari penjelasan tersebut, para ulama memahami bahwa qantharah merupakan tempat yang sangat penting dalam perjalanan akhirat. Ada yang memahaminya sebagai ujung shirath sebelum surga, dan ada pula yang memahaminya sebagai tempat tersendiri setelah shirath dan sebelum pintu surga.

Apa pun bentuk dan letaknya, qantharah menunjukkan bahwa surga adalah tempat yang suci. Penghuninya tidak masuk dalam keadaan masih menyimpan dendam, iri, benci, atau kezaliman terhadap orang lain.

Qantharah dan Penyucian Hati

Allah SWT menggambarkan keadaan penduduk surga dalam Al-Qur’an:

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَىٰ سُرُرٍ مُّتَقَابِلِينَ

Artinya: “Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS. Al-Hijr: 47)

Ayat ini menegaskan bahwa penduduk surga adalah orang-orang yang hatinya telah dibersihkan Allah SWT. Mereka tidak lagi membawa rasa dengki, dendam, dan kebencian. Mereka hidup dalam persaudaraan, kedamaian, dan kemuliaan.

Qishash di qantharah berbeda dengan qishash yang terjadi di Padang Mahsyar. Qishash di Padang Mahsyar berkaitan dengan pengembalian hak orang yang dizalimi. Sementara qishash di qantharah lebih mengarah pada penyucian hati orang-orang beriman sebelum masuk surga.

Di sinilah kita belajar bahwa Islam tidak hanya mengajarkan ibadah pribadi, tetapi juga sangat menekankan akhlak sosial. Salat, puasa, zakat, sedekah, dan ibadah lainnya harus berjalan beriringan dengan sikap amanah, tidak menyakiti sesama, menjaga lisan, dan menunaikan hak orang lain.

Jangan Meremehkan Kezaliman Kecil

Qantharah menjadi pengingat bahwa kezaliman sekecil apa pun tetap memiliki konsekuensi. Mengambil hak orang lain, menyakiti hati, menunda pembayaran utang, memfitnah, menggunjing, merendahkan, atau menyebarkan kebencian adalah perkara yang bisa dimintai pertanggungjawaban di akhirat.

Karena itu, seorang Muslim perlu membiasakan diri untuk bermuhasabah. Jika pernah menyakiti, mintalah maaf. Jika memiliki utang, tunaikanlah. Jika pernah mengambil hak orang lain, kembalikanlah. Jika pernah berbuat salah, jangan malu untuk memperbaiki diri.

Hati yang bersih bukan hanya dibangun dengan ibadah, tetapi juga dengan keberanian memperbaiki hubungan dengan sesama.

Menjaga Amal dan Memperbaiki Hubungan dengan Sesama

Mengenal qantharah seharusnya membuat kita semakin berhati-hati dalam menjalani hidup. Jangan sampai amal ibadah yang kita kumpulkan berkurang karena kezaliman kepada orang lain. Jangan sampai sedekah, puasa, dan kebaikan yang kita lakukan ternodai oleh lisan yang menyakiti atau perilaku yang merugikan sesama.

Islam mengajarkan keseimbangan antara hubungan kepada Allah dan hubungan kepada manusia. Seorang Muslim yang baik bukan hanya rajin beribadah, tetapi juga mampu menghadirkan rasa aman, manfaat, dan kebaikan bagi lingkungannya.

Semoga Allah SWT memudahkan kita menjaga lisan, membersihkan hati, menunaikan hak sesama, serta memperbanyak amal saleh. Semoga Allah menyelamatkan kita dari neraka, memudahkan kita melewati shirath, membersihkan hati kita di qantharah, dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya dengan penuh rahmat.

Mari terus memperbaiki diri, memperbanyak kebaikan, dan menghadirkan maslahat bagi sesama. Karena setiap amal yang dilakukan dengan ikhlas, amanah, dan memberi manfaat, insyaallah menjadi bekal terbaik untuk kehidupan akhirat.

BSI Maslahat adalah Lembaga Amil Zakat dan Nazhir Wakaf Nasional resmi terdaftar di Kementerian Agama RI dan BWI