Melihat Sejarah Perkembangan Islam di Tanah Betawi

\"\"

Setiap tanggal 22 Juni, Kota Jakarta memikirkan hari jadinya. Tahun ini, hari jadi Kota Jakarta memasuki usia yang ke-496 tahun.

 

Dengan tema “Jadi Karya untuk Nusantara”, sebagai amplifikasi slogan Sukses Jakarta untuk Indonesia. Bermakna akan kesiapan Jakarta untuk mengoptimalisasi seluruh sumber daya guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat, serta pemantik kemajuan bagi daerah lain di Indonesia.

 

Melihat sejarah Jakarta tidak bisa lepas dari sejarah Islam didalamnya. Perkembangan Islam di Jakarta memiliki sejarah yang panjang. Mengutip tulisan di Republika.co.id oleh Hasanul Rizqa, perkembangan Islam di Jakarta bisa dilihat dari ketika perebutan Portugis di Sunda Kelapa pada tahun 1527 sebagai tonggak penting dalam perkembangan Islam di ibu kota Indonesia.

 

Baca Juga:  3 Peristiwa Penting dalam Sejarah Islam yang Terjadi di Bulan Safar 

 

Sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara mengungkapkan bahwa pedagang Arab telah berdagang di Samudra Hindia selama lebih dari 2.000 tahun yang lalu, menjadikan Islam hadir di Nusantara sejak zaman Nabi Muhammad SAW atau era khulafaur rasyidin.

 

Pada abad ke-13, kedaulatan Islam mulai terbentuk di Indonesia, dengan Samudra Pasai menjadi kerajaan Islam pertama di Nusantara. Di Jawa, Kesultanan Demak menjadi kerajaan Islam pertama yang muncul, dengan hubungan yang erat dengan Samudra Pasai. Hubungan dua kerajaan ini menunjukkan bahwa k erjasama dan pernikahan merupakan hal yang penting untuk mempererat kedua kerajaan.

 

Pencaplokan Malaka oleh Portugis pada tahun 1511 berdampak pada Jawa, dengan Sunda Kelapa menjadi salah satu favorit bandar. Portugis kemudian membangun benteng di Sunda Kelapa pada tahun 1522. Peperangan antara Pajajaran dan Portugis, membuat kesultanan Demak dan walisongo marah, karena menganggap Portugis sebagai ancaman terhadap kemerdekaan Islam di Nusantara.

 

Baca juga: S ejarah Hari Buruh dan Aturan Tenaga Kerja dalam Islam

 

Untuk mengatasi ancaman Portugis, Sultan Trenggono dari Demak berusaha merebut kembali Malaka. Namun, upaya tersebut gagal karena peperangan . Sebagai alternatif, Demak dan Cirebon bersatu untuk merebut Banten terlebih dahulu sebelum menyerang Sunda Kelapa. Pada tahun 1526, pelabuhan Banten berhasil dikuasai oleh Islam, dan kemudian mereka bergerak menuju Sunda Kelapa.

 

Pada tanggal 22 Juni 1527, Sunda Kelapa direbut oleh Syarif Hidayatullah dan Fatahillah, yang kemudian mengganti namanya menjadi Fathan Mubina atau Jayakarta. Syarif Hidayatullah diberi gelar pandita ratu, sementara Fatahillah memimpin Jayakarta. Jayakarta memiliki tata kota yang mirip dengan kota-kota lain di pesisir utara Jawa pada masa pertumbuhan Islam, dengan keraton, masjid, pasar, dan alun-alun yang mencerminkan pusat kekuatan politik.

 

Setelah Portugis diusir, Ratu Bagus Angke dari Banten mengambil alih kepemimpinan Jayakarta, dengan menikah dengan Ratu Ayu Pembayun Fatimah, putri Fatahillah. Pada abad ke-17, kekuatan bangsa Eropa mulai muncul di Jayakarta. Belanda datang pertama kali pada tahun 1596 dan kembali lagi pada tahun 1602 dengan kesabaran Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau Perusahaan Hindia Timur Belanda.

 

Baca juga:  Sejarah, Nama, Bentuk dan Makna Ketupat di Indonesia

 

Tubagus Sungerasa Jayawikarta, putra Ratu Ayu Pembayun Fatimah, menjadi pemimpin Jayakarta saat bangsa-bangsa Eropa berlomba-lomba untuk menguasai wilayah tersebut. Perjuangan Jayakarta cukup besar dalam menghadapi berbagai kekuatan asing hal ini menjadi gambaran Islam yang menjadi warna utama dalam sejarah dan perkembangan kota Jakarta.

 

Secara keseluruhan, perjalanan Islam di Jakarta mulai nampak sejak pengusiran Portugis dari Sunda Kelapa hingga masa kolonial Belanda. Ada berbagai peristiwa sejarah yang mempengaruhi perkembangan Islam di ibu kota. Dari sejarah kita belajar betapa pentingnya Islam sebagai salah satu elemen yang membentuk identitas kota Jakarta.

 

Mengutip kabarjakarta.com dalam proses Islamisasi di Jakarta terdapat tujuh wali Betawi antara lain Pangeran Darmakumala dan Kumpi Datuk; Habib Sawangan; Pangeran Papak; Ema Datuk; Datuk Ibrahim; Wali Ki Aling.

 

Penyebar Islam setelah tujuh wali itu antara lain Habib Husein Alaydrus; Kong Jamirun; Datuk Biru; Habib Alqudsi; Datuk Tanggoro; dan Ki Balung. 

 

Di Mekah, terdapat Syeikh Junaid Al-Betawi, yang berasal dari Kampung Pekojan, Jakarta Barat. Ia amat termasyur karena menjadi imam di Masjid Haram. Syeh Junaid wafat di Mekah pada tahun 1840 dalam usia 100 tahun.

 

 

Di antara murid Syekh Junaid yang sampai kini kitab-kitabnya masih tersebar di dunia Islam adalah Syekh Nawawi al Bantani.

 

BSI Maslahat merupakan mitra strategi dari PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) dalam melakukan penghimpunan dan penyaluran dana ZISWAF, CSR dan Dana Sosial yang berpacu pada keikutsertaan. Sehingga pemanfaatan programnya dapat berdampak luas.    

Pada tahun ini, BSI Maslahat mempunyai campaign dan produk baru diantaranya Give 20k dan  goamal.org . Untuk program campaign Give 20k meliputi, ekonomi, pendidikan, kemanusiaan, masjid dan lain sebagainya.   

Sedangkan  goamal.org  adalah platform sedekah online penghimpun dana zakat, infak, dan wakaf yang dikelola oleh BSI Maslahat. Melalui Goamal.org pembayaran donasi bisa berapa saja, dimana saja, dan kapan saja. Selain itu dapat memilih program yang ingin didonasikan.  

BSI Maslahat merupakan mitra strategis dari PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) dalam melakukan penjualan dan penghimpunan dana ZISWAF, CSR dan Dana Sosial yang berpacu pada keikutsertaan. Sehingga pemanfaatan programnya dapat berdampak luas.   

 

Pada tahun ini,  bsimaslahat.org  mempunyai campaign dan produk baru diantaranya Give 20k dan  goamal.org . Untuk program campaign Give 20k meliputi, ekonomi, pendidikan, kemanusiaan, masjid dan lain sebagainya.  

 

Sedangkan  goamal.org  adalah platform sedekah online penghimpun dana zakat, infak, dan wakaf yang dikelola oleh BSI Maslahat. Melalui Goamal.org pembayaran donasi bisa berapa saja, dimana saja, dan kapan saja. Selain itu dapat memilih program yang ingin didonasikan.